(Unila) : Sebagai negara dengan penduduk terbesar ke-4 di dunia, Indonesia mempunyai potensi besar untuk berbisnis, karena melimpahnya sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA)nya. Namun, pascakrisis ekonomi yang melanda Indonesia, iklim bisnis menjadi tidak kondusif, sehingga tertatih dalam perkembangannya.
Di mata pengamat ekonomi internasional, pemerintah asing, Bank Dunia, IMF, dan WTO, iklim bisnis di Indonesia yang tidak kondusif, menyebabkan lemahnya kemajuan ekonomi Indonesia. Peran pemerintah dalam membangkitkan kembali investasi di Indonesia, jelas sangat menentukan.
Hal ini diungkapkan Yuria Putra Tubarad, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Provinsi Lampung. Pemaparan ini disampaikan pada diskusi kesiapan pengusaha Lampung dalam menghadapi komunitas ekonomi ASEAN dikaitkan dengan ketersediaan energi di daerah.
“Arah kebijakan dalam penyesuaian struktural, harus segera dilakukan pemerintah dengan mengadakan reformasi birokrasi dan undang-undang sebagai regulator dan fasilitator. Apalagi tahun 2015 telah berlaku Komunitas Ekonomi ASEAN (KEA) 2015, Indonesia harus optimis menghadapinya,” tukas Yuria.
Kegiatan diskusi yang digelar bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, dan Universitas Lampung (Unila) ini dihelat di Ballroom Hotel Sheraton, Bandar Lampung, Selasa (25/2). Ratusan peserta dari berbagai kalangan mengikuti kegiatan ini.
Lebih lanjut Yuria mengakatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan lemahnya daya tarik suatu daerah sebagai tujuan bisnis dan investasi. “Antara lain faktor keamanan, penegakan hukum kebijakan tidak tertata baik (good and clean governance), merebaknya korupsi dijajaran pemerintahan ketenagakerjaan, serta peningkatan kualitas SDM dan pasar,” ungkapnya.
Pada masa tersebut, Yuria mempertanyakan apakah mungkin Indonesia mampu bersaing, jika masih berkutat dengan persoalan keamanan yang tidak kondusif, perizinan yang berbelit-belit dan memakan biaya tinggi. “Apalagi infrastruktur yang rusak, yang membuat investor dan pengusaha tidak mau menanamkan modalnya di wilayah Indonesia, khusunya Lampung,” tukas Yuria lagi.
Justru, yang dikhawatirkan adalah Indonesia akan menjadi bangsa yang konsumtif dan sasaran perdagangan bagi negara-negara ASEAN lainnya. Yuria menegaskan dengan kata lain Indonesia akan menjadi penonton dan sapi perah bagi negara lain.
Apalagi, saat ini Indonesia tengah dilanda setidaknya tujuh krisis. Yakni krisis kewibawaan pemimpin, krisis kepercayaan terhadap partai politik dan parlemen, krisis efektivitas penegakan hukum, krisis kedaulatan SDM dan SDA, krisis kedaulatan pangan dan energi, krisis pendidikan, serta krisis integrasi nasional.[] Andro