(Unila): Fahza Aditia Arif, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila) angkatan 2025, berhasil meraih Juara II Putra Duta Bahasa Provinsi Lampung 2026 melalui gagasan inovatif “Jejama”, platform pembelajaran bahasa Lampung berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Sebagai peserta termuda, Fahza mengaku sempat merasa tertinggal dibandingkan peserta lain yang memiliki pengalaman lebih banyak. Namun, kondisi tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
“Bagi saya, berada di ruangan yang sama dengan orang-orang hebat merupakan kesempatan untuk bertumbuh,” ujarnya.
Dalam ajang tersebut, Fahza memperkenalkan Jejama sebagai inovasi utama yang dikembangkan untuk menjawab tantangan pelestarian bahasa daerah di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Jejama merupakan platform pembelajaran bahasa Lampung berbasis AI yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan adaptif. Platform ini dilengkapi fitur modul pembelajaran, kamus digital, pendamping belajar berbasis kecerdasan buatan, serta permainan edukatif yang memudahkan pengguna memahami bahasa Lampung secara lebih menarik.
Gagasan ini berangkat dari pengamatan Fahza terhadap semakin berkurangnya penggunaan bahasa Lampung di kalangan generasi muda, sementara di sisi lain penggunaan teknologi digital semakin masif dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut mendorongnya untuk menghadirkan inovasi yang menggabungkan teknologi dengan pelestarian bahasa daerah.
Menurut Fahza, pelestarian bahasa daerah perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman agar tetap relevan bagi generasi muda sehingga, Jejama dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih personal melalui pemanfaatan kecerdasan buatan.
Saat ini, Jejama masih berada dalam tahap pengembangan konsep melalui proses observasi, pemetaan kebutuhan pengguna, serta perancangan fitur sistem pembelajaran. Sasaran utama platform ini adalah tenaga pendidik, khususnya guru bahasa Lampung, sebagai pihak yang berperan penting dalam proses pelestarian bahasa di sekolah.
Fahza berharap “Jejama” dapat terus dikembangkan hingga dapat diimplementasikan secara luas dan memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian bahasa Lampung di masa depan.
“Tidak semua inovasi harus langsung besar atau sempurna. Yang terpenting adalah keberanian untuk mencoba dan mengembangkan gagasan agar dapat memberi manfaat,” ujarnya.
Melalui gagasan inovatif yang dikembangkan, Fahza berupaya mendorong pelestarian bahasa Lampung dengan memanfaatkan teknologi digital yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Inisiatif tersebut mencerminkan peran mahasiswa Unila sebagai agen perubahan yang tidak hanya berprestasi di tingkat daerah, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi yang berdampak bagi pelestarian budaya dan pengembangan literasi bahasa di tengah masyarakat. [Magang_Yeshicha Indah Cahyani]


