(Unila): Duta Baca Universitas Lampung (Unila), Septiyan Dwi Amanda, berhasil meraih juara tiga cabang Penulisan Lakon pada ajang Pekan Seni Mahasiswa Unila (Peksimila) 2025.
Prestasi ini menjadi capaian membanggakan dalam bidang seni dan sastra sekaligus menunjukkan peran aktif mahasiswa Unila dalam mengembangkan literasi kritis dan kepekaan sosial.
Keikutsertaan Septiyan dalam Peksimila dilatarbelakangi dorongan untuk menantang diri sendiri setelah lama tidak menulis naskah lakon sejak masa SMA. Melalui kompetisi ini, ia ingin menguji kembali kemampuannya dalam menulis karya dramatik di tengah kesibukan perkuliahan.
“Terakhir kali saya menulis lakon itu saat kelas 12 SMA. Saya ingin menantang diri sendiri, apakah sekarang masih bisa menulis lagi,” ujarnya saat diwawancarai via Whatsapp, 24 Desember 2025.
Septiyan pada ajang tersebut mengangkat naskah lakon berjudul “Suara dari Halaman Balai Desa”. Lakon ini mengisahkan kegelisahan warga Desa Seruni yang menghadapi berbagai persoalan sosial, mulai dari mahalnya biaya pendidikan, sulitnya akses pupuk bagi petani, kerusakan lingkungan laut, hingga ancaman deforestasi.
Konflik memuncak ketika warga secara spontan menyuarakan aspirasi mereka di halaman Balai Desa dan berhadapan langsung dengan birokrasi desa yang panik dan tidak siap.
Ide cerita dikembangkan dari pengamatan terhadap isu pendidikan, lingkungan, dan pelayanan publik, kemudian dipadukan dengan latar belakang akademik Septiyan di bidang Administrasi Negara.
Melalui lakon ini ia ingin menegaskan persoalan kebijakan publik bukan sekadar angka dan laporan, melainkan menyentuh langsung kehidupan masyarakat sehari-hari.
Penggambaran tokoh dalam lakon ini juga memiliki makna simbolik. Alya merepresentasikan suara mahasiswa yang terhimpit biaya pendidikan, Rafi mewakili kegelisahan petani kecil, Lia menjadi simbol keresahan nelayan terhadap rusaknya ekosistem laut, sementara Bara digambarkan sebagai personifikasi alam yang terus terancam oleh pembangunan.
Di sisi lain, tokoh Pak Lurah dan Tegar merefleksikan wajah birokrasi, antara kepanikan kekuasaan dan nurani aparatur muda yang mulai berpihak pada rakyat.
Proses penulisan naskah dilakukan di tengah padatnya aktivitas akademik, khususnya saat memasuki masa ujian akhir semester. Untuk menjaga konsistensi, Septiyan memanfaatkan waktu luang dan akhir pekan untuk menyelesaikan penulisan secara bertahap.
Kabar kemenangan tersebut disambut dengan rasa terkejut dan bahagia. Bagi Septiyan, capaian ini memiliki makna personal yang mendalam sebagai hasil dari keberanian mencoba dan kejujuran dalam berkarya.
“Setiap karya yang saya buat, saya selalu berusaha maksimal agar bisa membanggakan Ibu saya,” tuturnya.
Melalui prestasi ini, Septiyan berharap dapat memotivasi mahasiswa Unila untuk terus berkarya, membaca, dan menulis sebagai bagian dari penguatan budaya literasi di lingkungan kampus.
Sebagai Duta Baca Unila, ia menegaskan literasi tidak hanya tentang membaca, tetapi juga tentang keberanian menyuarakan realitas sosial melalui karya sastra. [Magang_Yeshicha Indah]


