
(Unila) : Kendala penting dalam peningkatan produksi kedelai adalah kehilangan hasil akibat serangan pathogen virus, Soybean Mosaic Virus (SMV) dan Soybean Stant Virus (SSV). Serangan virus-virus tersebut mengakibatkan penurunan hasil kedelai yang tinggi, yakni SSV 22–25% dan SMV 40–55%. Sampai saat ini, belum ditemukan pestisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan virus.
Penggunaan pestisida yang ditujukan untuk mengendalikan serangga vector, ternyata selain tidak efektif juga menimbulkan pencemaran lingkungan dan residu pestisida dalam hasil panen. Berdasarkan alasan tersebut, penanaman varietas tahan merupakan cara pengendalian yang ekonomis dan ramah lingkungan.
Hal ini dipaparkan Dr. Maimun Barmawi, Prof. Hasriadi Mat Akin, dan Dr. Nyimas Sa’diyah dalam penelitiannya “Perakitan Varietas Unggul Kedelai yang Tahan Terhadap Soybean Stunt Virus dan Soybean Mosaic Virus”. Ketiganya adalah dosen Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila). Penelitian ketiganya ini didanai pada penelitian hibah kompetensi.
Lebih lanjut mereka memaparkan, penelitian untuk mendapatkan galur unggul yang tahan terhadap penyakit virus telah dimulai pada tahun 2002. Para peneliti telah mempunyai plasma nutfah berupa genotipe-genotipe kedelai yang tahan terhadap beberapa pathogen virus.
Ketiganya mengungkapkan, genotipe yang telah diidentifikasi yang tahan terhadap SMV adalah varietas Taichung, dan yang tahan terhadap SSV adalah varietas galur B3570. Namun demikian, galur kedelai tersebut mempunyai daya hasil dan kualitas yang rendah. Oleh sebab itu, perlu dirakit varietas kedelai yang tahan terhadap SMV dan SSV.[] Andro