(Unila): Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Lampung (Unila) angkatan 2023, Dhiyaa Thifaal Tiffani, menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih tiga medali sekaligus pada ajang Bekasi Open 2025, di Revo Town Mall, Bekasi, pada 19–21 Desember 2025.
Pada kejuaraan yang diikuti sekitar 800 peserta dari berbagai daerah di Indonesia tersebut, Dhiyaa sukses meraih Juara 1 Classic Slalom Senior Women, Juara 2 Skate Cross Senior Women, dan Juara 3 Speed Slalom Senior Women, serta berada di peringkat lima atlet perempuan dengan perolehan medali terbanyak pada ajang ini.
Bekasi Open 2025 merupakan hasil kolaborasi antara Patriot Skate, Indonesia Skating Development, serta telah mendapat rekomendasi dari Pengurus Besar KONI dan PORSEROSI, sehingga menjadi salah satu ajang kejuaraan bergengsi di tingkat nasional.
Dhiyaa mengaku pencapaian ini terasa sangat memuaskan. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa yang sedang menjalani magang dengan waktu latihan yang terbatas, ia tetap mampu tampil maksimal.
“Aku Cuma daftar tiga kategori dan semuanya dapat medali. Rasanya bangga dan senang banget,” ujarnya.
Ketertarikan Dhiyaa terhadap sepatu roda bermula sejak kelas 2 sekolah dasar. Ia berhasil menembus peringkat 10 besar saat menduduki kelas 5 SD, yang kemudian menjadi titik balik dukungan penuh dari orang tua untuk menekuni olah raga ini secara profesional hingga akhirnya bergabung dengan tim Lampung.
“Awalnya emang Cuma iseng doang di setahun awal, Cuma buat mengisi kegiatan sehari-hari sampai akhirnya jadi bagian dari tim Lampung,” ujarnya.
Dhiyaa mengakui perjalanannya sebagai atlet perempuan tidak lepas dari berbagai tantangan, termasuk stereotip dan keraguan dari lingkungan sekitar. Ia kerap mendengar anggapan bahwa perempuan memiliki keterbatasan fisik atau dianggap membuang waktu dengan latihan yang melelahkan.
Bahkan, ada masa ketika ia sempat meragukan dirinya sendiri, terutama saat mengalami kekalahan dalam kompetisi. Namun, dukungan kuat dari orang tua dan tim membuatnya kembali bangkit.
“Dari beberapa perlombaan terakhir, itu jadi bukti kalau batasan itu sebenarnya Cuma ada di pikiran kita,” ungkapnya.
Selain itu, Universitas Lampung turut berperan dalam mendukung prestasi Dhiyaa, mulai dari apresiasi akademik, pendampingan administrasi seperti dispensasi, hingga dukungan fasilitas dan pembiayaan pada latihan maupun kejuaraan tertentu.
Sebagai bentuk komitmen terhadap prestasinya, Dhiyaa menjalani rutinitas latihan yang cukup intens dengan berlatih sekitar tiga jam per hari. Menjelang kompetisi, durasi dapat meningkat drastis hingga sepuluh jam dalam sehari, ditambah latihan fisik yang menguras stamina. Meski kerap dilanda kelelahan dan keraguan, Dhiyaa memilih bertahan.
“Aku pernah berdoa supaya bisa ada di posisi ini, ada tanggung jawab dan mimpi kecil yang belum selesai, rasanya nggak adil kalau sekarang berhenti Cuma karena capek,” tuturnya.
Ke depannya, Dhiyaa berharap sepatu roda ini dapat terus ia jalani secara berkelanjutan dan perjalanan dirinya ini menjadi inspirasi, khususnya bagi generasi muda dan calon atlet Indonesia, bahwa dunia olahraga layak diperjuangkan dengan komitmen penuh.
Dhiyaa berpesan agar generasi muda tidak terlalu terfokus pada hasil akhir. Menurutnya, kunci utama terletak pada keberanian untuk memulai dan konsistensi menjalani proses, meski penuh ketidakpastian.
“Jangan terlalu sibuk memikirkan hasil akhir sampai lupa kalau kita harus jalanin prosesnya, bukan karena yakin 100% bakal berhasil, tapi karena kamu cukup berani mencoba. Suatu saat usahamu pasti membuahkan hasil,” tutupnya. [Magang_Rina]

