Dari Ruang Kelas Unila Menuju Paris, Kisah Dahasrul Mengejar Masa Depan

0
251

(Unila): Paris kerap dikenal sebagai kota romantis dengan menara Eiffel dan museum Louvre yang megah. Namun bagi Dahasrul, Paris bukan sekadar destinasi wisata. “Saya ingin berkarier di negara orang, bukan hanya datang sebagai turis,” ujarnya.

Dahasrul merupakan alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung (Unila) angkatan 2014. Sejak 2019, ia menetap di Paris, Prancis.

Saat ini, ia tengah menyelesaikan studi magister, bekerja sebagai Assistant Manager di salah satu perusahaan lokal, serta merangkap sebagai tour guide bagi wisatawan Indonesia yang berlibur ke Eropa.

Keputusan merantau ke luar negeri lahir dari dorongan keluarga. “Faktor utama yang mendorong saya adalah keluarga, terutama almarhum ibu saya. Saya ingin membuat beliau bangga dan meng-upgrade diri saya dengan ilmu dan pengalaman,” tutur Dahasrul.

Keinginan itulah yang membulatkan tekadnya untuk mengejar mimpi berkarier di luar negeri. Paris dipilih sebagai tempat berkembang karena dinamika kota besarnya. Menurut Dahasrul, lingkungan tersebut membentuk mental yang kompetitif.

Saat pertama kali tiba di Paris, kesan mendalam langsung ia rasakan. “Suasananya sangat romantis, banyak tempat bersejarah dan ikonik seperti Menara Eiffel, Museum Louvre, sampai Champs Élysées,” ujarnya.

Namun di balik keindahan itu, tantangan budaya dan sistem kerja menjadi ujian tersendiri. Saat ini, Dahasrul bekerja di bidang manajerial yang sejalan dengan studi masternya. Latar belakang Pendidikan Bahasa Prancis menjadi kunci utama.

“Pekerjaan dan perkuliahan saya seratus persen menggunakan bahasa Prancis. Kalau dulu saya tidak mengambil jurusan Bahasa Prancis, mungkin saya tidak akan sampai ke Prancis,” ungkapnya.

Perjalanan studi dan kariernya diawali melalui program pertukaran budaya. Selama satu tahun, ia mempelajari bahasa dan budaya Prancis untuk beradaptasi.

Setelah itu, ia melanjutkan studi magister sambil bekerja melalui program studi kerja dari pemerintah Prancis.“Program ini memungkinkan saya bertahan di dunia kerja sekaligus pendidikan,” jelasnya.

Adaptasi budaya menjadi tantangan terbesar. “Orang Eropa sangat menghargai waktu dan bicara apa adanya. Kalau bagus, mereka bilang bagus. Kalau tidak, ya mereka bilang tidak,”ujarnya.

Untuk mengatasinya, Dahasrul memilih berbaur langsung dengan masyarakat lokal agar lebih cepat memahami pola pikir dan budaya mereka. Lingkungan Prancis memberi pengalaman yang membentuk dirinya hingga saat ini.

Ia merasakan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, yaitu Liberté (kebebasan), Égalité (persamaan atau kesetaraan), dan Fraternité (persaudaraan). Semboyan yang lahir dari Revolusi Prancis ini mencerminkan masyarakat yang bebas dari penindasan, memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum, serta saling menghormati sebagai sesama warga.

Bagi Dahasrul, perjalanan dari Unila hingga Paris adalah pertemuan antara kerja keras dan kesempatan. “Tidak ada yang terlalu spesial, saya hanya selalu percaya dengan mimpi saya sendiri.” pungkasnya.

Ia berharap kisahnya dapat memotivasi mahasiswa, khususnya mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung, untuk berani bermimpi dan aktif mencari peluang hingga ke tingkat global. [Magang_Asnia Sundari]