Buku Materi Iklim Dianggarkan APBD 2014

0
1465

(Unila) : Program inisiasi Universitas Lampung (Unila) terkait adaptasi perubahan iklim makin mendapat perhatian khusus pemerintah kota Bandarlampung. Di antaranya dengan dianggarkannya pencetakan buku materi kurikulum iklim melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2014 senilai Rp400 juta.

Koordinator Program Peningkatan Kapasitas Guru dan Siswa terhadap Perubahan Iklim Kota Bandarlampung Maulana Mukhlis mengatakan, selama dua tahun pencetakan buku telah dilakukan Unila bersama Mercy Corps.

“Pencetakan sebanyak 7.500 eksemplar dibagikan gratis kepada sekitar 38 guru dan 1.853 siswa yang terlibat. Ke depan, pencetakan buku tidak hanya didukung dana APBD tetapi diupayakan melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dengan demikian diharapkan setiap siswa memiliki buku penunjang,” ujarnya, Rabu (1/1).

Dosen FISIP Unila ini menerangkan, buku materi perubahan iklim bukan buku khusus melainkan materi yang berisi beberapa mata pelajaran SD maupun SMP. Dalam buku tersebut disisipkan beberapa materi perubahan iklim yang disesuaikan dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar (KI-KD) masing-masing pelajaran.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Kota Bandarlampung Tatang Setiadi menambahkan, penganggaran pencetakan buku kurikulum iklim dilakukan untuk mendukung rencana Dinas Pendidikan Kota Bandarlampung mereplikasi atau menerapkan materi perubahan iklim di seluruh SD dan
SMP di Bandarlampung.

Program ini, kata dia, telah diuji coba secara matang selama dua tahun pada empat sekolah. Yakni SDN 1 Karangmaritim, SDN 1 Langkapura, SMPN 27, dan SMPN 7 Bandarlampung. “Memasuki tahun ketiga, tepatnya ajaran baru mendatang akan kami terapkan di seluruh sekolah,” ujar Tatang.

Ia menyatakan, program inisiasi Unila bersama Mercy Corps dalam program Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCCRN) ini tergolong sukses. Dengan terpilihnya dua sekolah uji coba, yakni SMPN 7 dan SDN 1 Langkapura sebagai sekolah adiwiyata tingkat Kota Bandarlampung 2013.

Namun adiwiyata bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Bukti paling nyata sebenarnya terjadi di lapangan, di masing-masing sekolah uji coba.  Di antaranya perubahan sikap signifikan dari warga sekolah untuk peduli terhadap lingkungan sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan iklim.[]Mutiara