(Unila): AIESEC in Universitas Lampung (Unila) menyelenggarakan Impact Circle 13.0 mengusung tema “From Potential to Impact: Empowering Youth for Sustainable Tourism in Lampung” sebagai wadah bagi generasi muda untuk memahami proses merancang solusi inovatif dalam mendukung pariwisata berkelanjutan di Lampung. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Gedung E Lantai 4 Fakultas Hukum Unila, Jumat, 6 Juni 2026.
Sebanyak 127 peserta terlibat dalam rangkaian kegiatan yang menggabungkan diskusi, simulasi kasus, dan pengembangan solusi. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami bagaimana sebuah permasalahan dapat diolah menjadi rekomendasi yang lebih terstruktur dan aplikatif.
Sejak awal kegiatan, peserta diperkenalkan pada berbagai realitas yang terjadi dalam sektor pariwisata melalui sesi interaktif bertajuk “The Unseen Lampung”, yang dirancang untuk menguji sekaligus memperluas pemahaman mereka terhadap kondisi yang ada di lapangan.
Pembahasan kemudian dilanjutkan bersama Maura Cantyqa Candra melalui sesi “Youth-Driven Innovation: Transforming Potential into Impact”. Maura dalam pemaparannya menyoroti pentingnya pola pikir inovatif dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul di lingkungan sekitar.
Menurutnya, perubahan sering kali dimulai dari kemampuan seseorang dalam melihat peluang di balik sebuah permasalahan. Perspektif berbeda kemudian hadir melalui sesi “The Unseen Lampung: Turning Local Potentials into Real Opportunities” yang dibawakan Deddy Sulaimawan, S.H., M.M.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami bagaimana potensi yang dimiliki suatu daerah dapat berkembang menjadi peluang apabila didukung oleh strategi yang tepat dan kolaborasi dari berbagai pihak.
Puncak kegiatan berlangsung melalui sesi simulasi pemecahan masalah yang menempatkan peserta sebagai perancang solusi. Dengan menggunakan metode Mystery Letter, setiap kelompok menerima studi kasus yang berbeda dan diminta merumuskan pendekatan yang dapat diterapkan untuk menjawab permasalahan tersebut.
Selama proses berlangsung, peserta melakukan identifikasi masalah, menyusun prioritas kebutuhan, memetakan pemangku kepentingan, serta mengembangkan rekomendasi yang dituangkan ke dalam Masterplan Canvas. Aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah ide dapat berkembang melalui proses analisis dan kolaborasi yang sistematis.
Beragam solusi yang dihasilkan menunjukkan kreativitas peserta dalam melihat sebuah persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Tidak hanya berfokus pada promosi destinasi, beberapa kelompok juga menyoroti pentingnya pemberdayaan masyarakat lokal, penguatan identitas daerah, serta pemanfaatan teknologi digital sebagai bagian dari strategi pengembangan pariwisata.
Menurut Evan Hafiz Widodo, salah satu peserta Impact Circle 13.0, kegiatan ini memberikan pengalaman baru dalam memahami hubungan antara ide dan implementasi di lapangan.
“Menurut aku eventnya seru banget karena bisa ketemu banyak orang baru dan dapat banyak knowledge baru juga. Aku jadi lebih tahu tentang pariwisata di Lampung dan kaitannya dengan SDG 8. Penyampaian materinya juga menarik dan bikin aku dapat sudut pandang baru tentang bagaimana pariwisata bisa mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Pelaksanaan Impact Circle 13.0 turut didukung oleh BarePlus, There Is Glee, TOMORO Coffee, Raos Chicken, Sehati Katering, Bulbulkibul, Kue Fresh Al Ihsan, dan Senyoom Photobooth sebagai mitra pendukung kegiatan.
Melalui Impact Circle 13.0, AIESEC in Unila berharap semakin banyak generasi muda yang terbiasa melihat tantangan sebagai peluang untuk berinovasi. Sebab, kemampuan merancang solusi, bekerja sama, dan mengembangkan ide menjadi keterampilan yang semakin penting dalam menghadapi berbagai persoalan di masa depan. [Magang_Shalu Munadiyan]


