




(Unila): Universitas Lampung (Unila) menggelar kegiatan pelatihan jurnalistik dan fotografi di lingkungan Universitas Lampung, pada Rabu, 29 Juli 2026, di Ruang Sidang Utama lantai dua Rektorat kampus setempat.
Kegiatan mengusung tema “Penguatan Kapasitas Kehumasan Kampus: Wujudkan Komunikasi Publik Unila yang Adaptif dan Berdampak”, sebagai upaya meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di bidang kehumasan, jurnalistik, dan fotografi.
Kegiatan yang dibuka Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unila Prof. Dr. Ayi Ahadiat, S.E., M.B.A.; menghadirkan tiga narasumber kompeten.
Mereka antara lain CEO Humas Indonesia, Asmono Wikan; Ketua Bidang Siber Staf PWI Lampung, Ariyadi Ahmad; Wakil Sekretaris PWI Lampung, Syahroni Yusuf.
Turut hadir dalam kegiatan Kepala Biro Perencanaan, Kerja Sama, dan Humas (BPKHM), Dr. Budi Sutomo, S.Si., M.Si., dan Ketua Tim Kerja Humas Unila Muhamad Safik Eka Saputra, S.E., M.M.
Prof. Ayi Ahadiat dalam sambutan menegaskan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berlangsung sangat cepat menuntut humas perguruan tinggi untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan di ruang digital.
Menurutnya, humas tidak lagi hanya berperan sebagai pelengkap administratif atau penyusun rilis formal, melainkan menjadi garda terdepan dalam menjaga reputasi institusi serta membangun komunikasi publik yang efektif.
Ia mengatakan, kompetensi tersebut dibangun melalui tiga pilar utama, yakni pola pikir (mindset), keterampilan (skillset), dan karakter (behavior) yang kuat dalam menjalankan profesi kehumasan.
“Dalam konteks perguruan tinggi, humas bukan lagi sekadar pelengkap administratif atau membuat rilis formalitas semata. Humas adalah garda terdepan sekaligus penjaga reputasi dan jejak digital institusi,” ujarnya.
Rangkaian materi diawali oleh Asmono Wikan, menyajikan materi manajemen komunikasi krisis di perguruan tinggi. Disusul materi Ariyadi Ahmad, menyajikan materi kaidah penulisan berita dan tantangan publikasi kampus diera digital. Terakhir, Syahroni Yusuf memaparkan materi foto jurnalistik.
Asmono Wikan menyampaikan, perguruan tinggi menghadapi risiko reputasi lebih tinggi dibanding korporasi karena memiliki positioning sebagai penjaga nilai moral dan integritas intelektual.
Dengan diselenggarakannya kegiatan ini, diharapkan para peserta dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensi di bidang manajemen komunikasi, penulisan berita, serta foto jurnalistik. [Magang_Rina/Samsul]




