Unila Wujudkan Mimpi Anak Driver Ojol Raih Kursi Kedokteran Lewat Jalur Prestasi

(Unila): Pendidikan tinggi berkualitas harus inklusif dan menjadi milik semua kalangan. Komitmen nyata ini kembali dibuktikan oleh Universitas Lampung (Unila) melalui hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Rinita Irawati, putri seorang driver ojek online (ojol) asal SMAN 1 Bandar Lampung, berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah pembatas untuk menembus ketatnya kompetisi di Fakultas Kedokteran (FK) Unila.

Rinita hanyalah satu dari sekian banyak potret dampak nyata hadirnya Unila sebagai mesin mobilitas sosial di Provinsi Lampung. Di tengah kekhawatiran publik mengenai bayang-bayang mahalnya biaya pendidikan kedokteran, Unila secara konsisten membuka pintu lebar-lebar bagi talenta emas daerah dari berbagai latar belakang sosio-ekonomi melalui jalur prestasi murni.

Terinspirasi dari perjuangan merawat sang nenek yang mengidap stroke, Rinita memupuk empati tinggi sejak dini. Berkat ketekunan, kedisiplinan, serta dukungan moral dari orang tuanya, Rinita berhasil menjaga konsistensi akademiknya sekaligus aktif di kegiatan non-akademik hingga dinyatakan lolos di FK Unila pada 31 Maret lalu.

Bagi Rinita, kelulusan ini bukan sekadar pencapaian akademik biasa, melainkan sebuah mukjizat dan titik balik bagi kehidupan keluarganya.

“Kelulusan di FK Unila ini adalah mukjizat sekaligus titik balik bagi keluarga kami. Jujur, awalnya kami sempat sangat cemas dan ragu dengan biaya kedokteran karena keterbatasan ekonomi. Namun, keterbukaan informasi dan sistem seleksi di Unila yang transparan serta ramah terhadap anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu, memberikan kami keyakinan kembali,” ungkap Rinita penuh haru saat diwawancarai pada Jumat, 10 Maret 2026.

Ia menambahkan, kesempatan yang diberikan Unila menjadi pembuktian berharga atas kerja keras yang ia lakukan selama ini. “Unila tidak melihat pekerjaan ayah saya sebagai driver ojol, Unila melihat kerja keras dan mimpi saya. Saya berjanji akan belajar dengan tekun untuk menjadi tenaga medis yang kompeten dan mengabdi penuh bagi kesehatan masyarakat Lampung,” tuturnya.

“Unila tidak melihat pekerjaan ayah saya sebagai driver ojol, Unila melihat kerja keras dan mimpi saya. Saya berjanji akan belajar dengan tekun untuk menjadi tenaga medis yang kompeten dan mengabdi penuh bagi kesehatan masyarakat Lampung,” ujar Rinita. 

Dampak nyata dari kebijakan inklusivitas Unila ini dirasakan langsung secara mendalam oleh sang ayah, Bukhori, yang sehari-hari menggantungkan hidup dari jalanan sebagai pengemudi ojek online. Bersama istrinya, Isnaini, Bukhori selalu menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan rasa syukur kepada Rinita sejak kecil.

“Setiap hari saya narik ojek, di kepala saya hanya satu, bagaimana anak saya bisa sekolah setinggi-tingginya. Ketika Rinita bilang mau jadi dokter di Unila, saya sempat gemetar memikirkan biaya. Tapi hari ini, Unila membuktikan bahwa kampus ini bukan hanya untuk orang kaya,” tutur Bukhori dengan mata berkaca-kaca.

“Setiap hari saya narik ojek, di kepala saya hanya satu, bagaimana anak saya bisa sekolah setinggi-tingginya. Ketika Rinita bilang mau jadi dokter di Unila, saya sempat gemetar memikirkan biaya. Tapi hari ini, Unila membuktikan bahwa kampus ini bukan hanya untuk orang kaya,” ujar Bukhori.

Bagi Bukhori, kehadiran Unila di jalur prestasi murni ini memberikan ruang keadilan yang nyata bagi masyarakat bawah. “Terima kasih Unila telah memberikan kesempatan pada anak seorang ojol untuk merajut cita-cita mulia. Ini adalah dampak nyata yang menyelamatkan masa depan keluarga kami,” tambahnya.

Melalui keberhasilan ini, Rinita juga membagikan pesan penyemangat bagi generasi muda lainnya yang sedang berjuang di tengah keterbatasan. Ia berharap langkah yang ditempuhnya hari ini bisa menginspirasi banyak orang untuk tidak menyerah pada keadaan.

“Untuk teman-teman, tetap semangat dan jangan menyerah. Percayalah pada proses, karena setiap usaha pasti akan membuahkan hasil. Jangan jadikan keterbatasan sebagai hambatan untuk meraih cita-cita,” pesan Rinita menutup perbincangan.

Langkah kaki Rinita yang kini resmi menjadi bagian dari sivitas akademika Unila menjadi bukti hidup bahwa di bawah naungan Unila, mimpi anak bangsa dari sudut sosial mana pun dapat tumbuh, difasilitasi, dan kelak mekar menjadi manfaat yang luas bagi masyarakat. [Red]