(Unila): Di tengah tantangan rendahnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, sekelompok mahasiswa Universitas Lampung (Unila) melaksanakan pelatihan public speaking bagi siswa SDN 02 Kampung Baru sebagai upaya menumbuhkan keberanian berbicara dan kepercayaan diri sejak usia dini. Program pengabdian masyarakat ini menjadi bukti bahwa peran mahasiswa tidak hanya terbatas di ruang kuliah, tetapi juga hadir untuk menjawab kebutuhan nyata di lingkungan pendidikan.
Kegiatan yang digagas oleh tim mahasiswa tersebut berangkat dari fenomena yang kerap ditemui di ruang kelas, yakni masih banyak siswa yang enggan bertanya, menyampaikan pendapat, maupun berargumentasi. Kondisi ini dinilai sebagai bagian dari gejala learning crisis yang berdampak pada kemampuan berpikir kritis dan komunikasi generasi muda. Melalui pelatihan ini, mahasiswa berupaya menciptakan ruang belajar yang lebih partisipatif dan mendorong siswa untuk berani mengekspresikan gagasannya.
Tim pelaksana terdiri dari Aldi Try Juliawan selaku ketua tim bersama Nevaya Jimla Safitri, Nadia Nisrina Chairinnisa, Salim Tanuwijaya Nugroho, dan Septa Putra Abelsa. Masing-masing anggota menjalankan peran yang berbeda, mulai dari penyusunan materi, penyampaian pelatihan, hingga koordinasi lapangan. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting dalam memastikan program berjalan efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta.
Pemilihan SDN 02 Kampung Baru sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Berdasarkan komunikasi awal dengan pihak sekolah, masih ditemukan siswa yang kurang aktif dalam diskusi kelas dan belum berani mengemukakan pendapat. Sekolah pun menyambut baik program yang berfokus pada pengembangan kapasitas non-akademik siswa sebagai bagian dari pembentukan karakter dan keterampilan abad ke-21.
Sebelum merancang program, tim terlebih dahulu melakukan identifikasi kebutuhan melalui diskusi dengan guru dan siswa. Dari hasil pendekatan tersebut, diketahui bahwa rendahnya partisipasi siswa dipengaruhi oleh kurang menariknya proses pembelajaran yang mereka rasakan serta keterbatasan kemampuan komunikasi. Temuan inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan materi dan indikator keberhasilan kegiatan.
Selama pelatihan berlangsung, siswa diajak mengenal konsep dasar public speaking melalui pendekatan yang menyenangkan dan interaktif. Materi yang diberikan mencakup cara memperkenalkan diri, teknik berbicara dengan percaya diri, penggunaan intonasi yang baik, hingga keberanian menyampaikan pendapat. Untuk menjaga antusiasme peserta, tim juga menyisipkan permainan edukatif, praktik langsung, dan sesi tanya jawab yang melibatkan seluruh siswa.
Suasana kelas yang semula dipenuhi siswa pemalu perlahan berubah menjadi lebih hidup. Antusiasme peserta terlihat ketika mereka mulai aktif mengikuti permainan, menjawab pertanyaan, dan mencoba berbicara di depan teman-temannya. Meski pada awalnya masih ada beberapa siswa yang tampak ragu, dukungan dan motivasi yang diberikan tim berhasil mendorong mereka keluar dari zona nyaman.
Salah satu momen paling berkesan terjadi ketika beberapa siswa yang sebelumnya enggan tampil akhirnya memberanikan diri berbicara di depan kelas. Keberanian yang muncul secara bertahap tersebut menjadi indikator nyata bahwa pelatihan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kepercayaan diri peserta. Perubahan sederhana ini menjadi capaian penting yang menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi dapat dilatih sejak usia sekolah dasar.
Di balik keberhasilan tersebut, tim juga menghadapi tantangan dalam menjaga fokus siswa yang memiliki energi dan semangat tinggi. Namun, melalui strategi pembelajaran yang adaptif seperti ice breaking, permainan, dan aktivitas interaktif, suasana belajar tetap kondusif dan menyenangkan. Hasilnya, siswa menunjukkan peningkatan keberanian, lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi, serta lebih percaya diri saat menyampaikan pendapat.
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menunjukkan bahwa dampak kampus tidak selalu hadir dalam bentuk program besar, tetapi juga melalui langkah sederhana yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui pelatihan public speaking di SDN 02 Kampung Baru, mahasiswa berhasil mendorong tumbuhnya keberanian dan kepercayaan diri siswa untuk berbicara serta menyampaikan pendapat.
Inisiatif ini menjadi wujud nyata komitmen Universitas Lampung dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui peran aktif mahasiswanya. [Magang_Asnia]
