(Unila): Kireinanurra Ratu Alpusani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Lampung (Unila) angkatan 2023, berhasil meraih Juara II pada kategori Speech Competition dalam ajang Padjadjaran English Open.

Prestasi tersebut menjadi pengalaman berharga baginya karena merupakan kali pertama mengikuti kompetisi pidato bahasa Inggris setelah lebih banyak berkecimpung di bidang storytelling.

Padjadjaran English Open dilaksanakan secara fully online melalui Zoom Meeting. Kireinanurra mengaku memiliki kesan yang sangat positif terhadap kompetisi tersebut karena panitia dinilai ramah, komunikatif, dan responsif dalam memberikan informasi kepada peserta.

Selain itu, panitia juga aktif mengingatkan jadwal dan tahapan perlombaan sehingga peserta dapat mempersiapkan diri dengan baik. Kireinanurra mulai mempersiapkan diri kurang dari dua minggu sebelum kompetisi dilaksanakan.

Meskipun telah mengetahui informasi mengenai Padjadjaran English Open sejak awal pembukaan pendaftaran, ia sempat ragu untuk mendaftar karena selama ini lebih banyak berkecimpung di bidang storytelling dan belum pernah mengikuti Speech Competition.

Setelah mempertimbangkannya, ia memutuskan untuk mengambil kesempatan tersebut dan mulai mempersiapkan diri. Pada Padjadjaran English Open tahun 2025, tema besar yang diusung adalah “Let Yourself Resonate into the Screen”.

Untuk kategori Speech Competition, Kireinanurra memilih subtema “I Typed, The World Listened” yang membahas tentang digital activism dan kekuatan suara masyarakat di media sosial.

Dalam pidatonya, Kireinanurra mengangkat kasus Justice for Audrey sebagai contoh bagaimana opini publik di internet dapat terbentuk dengan sangat cepat tanpa didukung fakta yang lengkap.

Ia juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai seseorang yang pernah ikut menyebarkan informasi tersebut karena percaya bahwa dirinya sedang membela korban.

Menurutnya, memiliki suara di internet merupakan sebuah hak istimewa sekaligus tanggung jawab karena satu unggahan, komentar, atau bahkan tombol bagikan dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap kehidupan seseorang.

“Melalui pidato ini, saya mengajak audiens untuk selalu Pause, Check, and Think sebelum membagikan atau mempercayai informasi di internet. Menurut saya, memperjuangkan keadilan itu penting, tetapi kita juga harus memastikan bahwa yang kita perjuangkan benar-benar berdasarkan kebenaran, bukan sekadar asumsi atau opini yang sedang viral,” ujarnya.

Kireinanurra mengetahui informasi mengenai Padjadjaran English Open melalui English Society Unila (ESo), organisasi yang diikutinya di tingkat universitas dan tempat ia menjabat sebagai Vice President.

Ketertarikannya mengikuti Speech Competition juga berangkat dari pengalamannya mengikuti berbagai kompetisi storytelling sejak SMP hingga menjadi mahasiswa. Namun, hasil yang diperoleh dari berbagai kompetisi tersebut belum sesuai harapannya sehingga ia memutuskan untuk mencoba tantangan baru di bidang speech.

Proses persiapan menjadi tantangan tersendiri karena waktu yang tersedia kurang dari dua minggu dan pengalaman dalam pidato bahasa Inggris masih terbatas. Ia harus menyesuaikan diri dalam menyusun naskah speech yang argumentatif dan didukung data.

Dalam proses tersebut, Kireinanurra mendapat dukungan dari teman-teman dan kakak tingkat di English Society Unila yang membantu mulai dari brainstorming ide, pengecekan tata bahasa, penyusunan naskah, hingga evaluasi penampilan.

Kompetisi ini terdiri atas tahap preliminary dan final. Pada babak final, peserta diberikan tema baru sekitar satu hari sebelum pelaksanaan sehingga harus melakukan riset, menyusun naskah, berlatih, dan mempersiapkan penampilan dalam waktu yang terbatas.

Menurut Kireinanurra, dewan juri juga memberikan umpan balik secara rinci kepada setiap peserta setelah setiap tahap perlombaan. Tantangan terbesar yang dihadapi Kireinanurra adalah beradaptasi dari storytelling ke speech.

Ia juga sempat merasa minder ketika mengetahui banyak peserta berasal dari berbagai universitas ternama di Indonesia dan beberapa di antaranya dikenal sebagai langganan juara kompetisi speech, sementara dirinya baru pertama kali mengikuti lomba tersebut. Awalnya, ia hanya ingin mendapatkan pengalaman dan belajar sebanyak mungkin.

Namun, ketika dinyatakan lolos ke babak final bersama empat peserta lainnya, Kireinanurra mulai mengubah cara pandangnya. Ia memilih untuk fokus pada proses dan memberikan yang terbaik tanpa terlalu terbebani oleh ekspektasi.

Dukungan dari orang tua, teman-teman, serta kakak tingkat di English Society Unila juga membantunya menghadapi kompetisi dengan lebih tenang hingga akhirnya berhasil meraih Juara II pada kompetisi speech pertamanya.

“Pesan saya sederhana: jangan takut untuk mencoba. Jika hasil yang diperoleh belum sesuai harapan, jadikan itu sebagai pengalaman belajar. Terus mencoba, terus belajar, dan jangan takut gagal. Terkadang, keberhasilan datang bukan ketika kita bertahan di satu jalur, tetapi ketika kita berani mengeksplorasi peluang baru yang mungkin lebih sesuai dengan potensi kita,” ujarnya.

Bagi Kireinanurra, mengikuti Padjadjaran English Open menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam perjalanan dirinya di dunia public speaking sekaligus mengajarkannya untuk berani keluar dari zona nyaman dan mencoba hal baru.

“Pada akhirnya, Padjadjaran English Open bukan hanya tentang memenangkan kompetisi, tetapi juga tentang proses belajar, keberanian untuk mencoba, dan kesempatan untuk terus berkembang menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri,” ujarnya. [Magang_Shalu Munadiyan]