(Unila): Muhammad Luthfi Handika, mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Lampung (Unila) angkatan 2023, berhasil meraih Juara III Putra Duta Bahasa Provinsi Lampung.
Pada ajang tersebut, setiap finalis membawakan gagasan kreatif masing-masing. Berangkat dari latar belakangnya sebagai mahasiswa Pendidikan Kimia, Luthfi mengangkat isu literasi sains siswa Indonesia yang berdasarkan data PISA masih jauh dari rata-rata.
Pemilihan Duta Bahasa diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Lampung di bawah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Rangkaian kegiatannya meliputi seleksi administrasi, tes kebahasaan, wawancara, pembekalan, krida, hingga malam penganugerahan. Seluruh proses tidak hanya menguji kemampuan berbahasa, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap isu kebahasaan.
Luthfi mulai mempersiapkan diri beberapa bulan sebelum seleksi dimulai, tepatnya pada Februari.
Persiapan yang dilakukan tidak hanya mempelajari materi kebahasaan, tetapi juga memperdalam isu-isu pendidikan, literasi, dan peran bahasa dalam kehidupan masyarakat. Baginya, menjadi Duta Bahasa bukan sekadar kompetisi, tetapi kesempatan untuk membawa gagasan yang berdampak.
Permasalahan literasi sains tersebut juga ditemuinya secara langsung saat praktik di sekolah maupun selama proses perkuliahan. Menurutnya, banyak siswa mampu menghafal konsep, tetapi belum benar-benar memahaminya.
Salah satu penyebabnya adalah penggunaan bahasa dalam pembelajaran yang kurang presisi sehingga menimbulkan miskonsepsi dan menghambat kemampuan berpikir kritis. Berangkat dari pengalaman tersebut, Luthfi menginisiasi gagasan kreatif yang diberi nama Ruang Bernalar.
Gagasan ini berangkat dari pendekatan pembelajaran konstruktivistik yang dipelajarinya bersama dosen dan selama perkuliahan, yaitu pembelajaran yang mendorong siswa membangun pemahamannya sendiri melalui pengalaman belajar yang bermakna.
Menurut Luthfi, Ruang Bernalar lahir dari pengalaman selama praktik di sekolah, kegiatan penelitian, dan proses perkuliahan. Melalui gagasan tersebut, ia mengembangkan ruang edukasi yang mengomunikasikan sains dengan bahasa yang lebih sederhana, presisi, dan kontekstual agar pembelajaran menjadi lebih bermakna.
“Tantangan terbesar adalah menghubungkan isu literasi sains dengan isu kebahasaan secara logis dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Saya mengatasinya membaca hasil penelitian, serta terus menyempurnakan gagasan agar tetap berbasis data, realistis, dan memiliki dampak yang dapat diwujudkan,” ujarnya.
Luthfi mengaku respons yang diterimanya terhadap gagasan tersebut sangat positif. Banyak yang menilai Ruang Bernalar menghadirkan perspektif baru karena menghubungkan bahasa dengan literasi sains. Masukan yang diterimanya pun menjadi motivasi untuk terus mengembangkan gagasan tersebut agar dapat diterapkan secara lebih luas.
Jika gagasan tersebut dapat direalisasikan, Luthfi ingin memulainya melalui kegiatan edukasi dan pendampingan yang terintegrasi dengan aktivitas akademik bersama mahasiswa calon guru sains.
Melalui Ruang Bernalar, ia ingin mengajak mereka untuk mengomunikasikan konsep-konsep sains dengan bahasa yang lebih sederhana, presisi, dan kontekstual, sehingga pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga membangun pemahaman dan kemampuan berpikir kritis siswa.
Ia berharap ruang kolaborasi tersebut dapat menjadi langkah kecil yang memberi dampak nyata bagi peningkatan literasi sains di sekolah.
“Bahasa adalah jembatan ilmu pengetahuan. Ketika bahasa digunakan secara tepat, sederhana, dan presisi, konsep sains akan lebih mudah dipahami sehingga dapat meminimalkan miskonsepsi. Dari pemahaman yang baik inilah kemampuan berpikir kritis dapat tumbuh dan literasi sains dapat meningkat,” ujarnya.
Melalui pengalaman mengikuti Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Lampung, Luthfi mengaku belajar bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga alat untuk membangun cara berpikir dan memengaruhi perubahan sosial. Ia juga bertemu banyak anak muda inspiratif yang memiliki kepedulian besar terhadap bahasa dan budaya Indonesia.
Menjadi Juara III Putra Duta Bahasa Provinsi Lampung merupakan amanah sekaligus motivasi baginya untuk terus berkarya. Ia berharap, Ruang Bernalar dapat berkembang menjadi ruang kolaborasi yang membantu generasi muda memahami sains dengan lebih baik melalui kekuatan bahasa.
“Karena saya percaya, masa depan bangsa tidak hanya dibangun oleh generasi yang pandai menghafal, tetapi oleh generasi yang mampu memahami, bernalar, dan berpikir kritis,” ujarnya. [Magang_Shalu Munadiyan]

