(Unila): Setelah menjalani dua hari proses belajar di Desa Bumijaya dan Way Gelam, peserta Sustainable Awareness Day (SAD) #2 melanjutkan rangkaian kegiatan melalui Seminar Presentasi Hasil Lokakarya Sistem Pangan Lokal yang diselenggarakan di Co-Working Space Gedung H FISIP Universitas Lampung (Unila).
Forum ini menjadi ruang artikulasi pengalaman lapangan ke dalam percakapan akademik, sekaligus mempertemukan berbagai perspektif lintas disiplin dalam membaca sistem pangan lokal.
Kegiatan dibuka oleh Fuad Abdulgani, Dosen Sosiologi sekaligus Koordinator Lokakarya, yang menekankan pentingnya menjadikan pengalaman lapangan sebagai sumber pengetahuan yang setara dengan pembelajaran di kelas.
Dalam sesi presentasi, mahasiswa dari berbagai jurusan menyampaikan refleksi dan analisis mereka berdasarkan pengalaman selama lokakarya. Diawali oleh Risywa Firdausy (PPKn), yang menyoroti sistem pangan dari perspektif kewarganegaraan.
Ia menegaskan, praktik mengelola pangan secara baik dan organik tidak hanya soal produksi, tetapi juga bentuk tanggung jawab sebagai warga negara. “Mengelola pangan dengan baik dan organik adalah bagian dari menjadi good citizen,” ujarnya.
Selanjutnya, Dimas Ferdiansyah dan Hafiz Einstein (Agronomi dan Hortikultura) mengulas praktik pertanian dari sisi teknis dan ekologis, sekaligus menekankan urgensi diversifikasi pangan lokal sebagai fondasi ketahanan pangan berkelanjutan.
Mereka menggarisbawahi bahwa ketergantungan pada satu jenis komoditas tidak hanya berisiko secara ekonomi, tetapi juga rentan terhadap gangguan ekologis. Melalui pengalaman lapangan, keduanya menunjukkan bahwa praktik pertanian berbasis keragaman, baik jenis tanaman maupun pola tanam, mampu meningkatkan resiliensi sistem pangan.
Dari perspektif sosiologis, Selvy Amelia (Sosiologi) mengangkat pengalaman Lumbung Kasih dan Wonderfarm sebagai contoh bagaimana perubahan sosial dapat berangkat dari pengalaman personal.
Berdasarkan inisiatif Wonderfarm Natural, ia menyoroti kebutuhan akan pangan sehat yang awalnya bersifat individual dapat berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih luas. “Seringkali, inisiatif besar berakar dari pengalaman personal. Dari konsumsi pribadi, berkembang menjadi gerakan sosial, bahkan menjadi tanggung jawab moral”.
Ia juga mengaitkan pengalamannya dengan kutipan reflektif, “It’s hard to be mad when you feel like you’re part of something big,” yang menggambarkan bagaimana keterlibatan dalam praktik pertanian komunitas membangun rasa menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar.
Selvy menambahkan pengalaman belajar di lapangan menghadirkan dimensi yang berbeda dibandingkan pembelajaran di kelas. Seluruh pancaindra terlibat secara aktif—mulai dari menyentuh tanah, merawat tanaman, hingga menyaksikan langsung dinamika produksi pangan lokal.
Hal-hal yang sebelumnya hanya hadir sebagai konsep kini menjadi pengalaman nyata yang membekas secara emosional dan intelektual. Baginya, pembelajaran seperti ini bukan sekadar memahami, tetapi juga mengalami.
Sementara itu, Mayselina Tarigan (Sosiologi) menghadirkan refleksi yang mendalam melalui pengalamannya di Wonderfarm Natural. Ia menyoroti praktik pertanian yang melampaui standar organik pada umumnya, yakni dengan tidak menggunakan pestisida sama sekali, termasuk pestisida organik.
Baginya, prinsip yang dipegang sangat jelas: pestisida, dalam bentuk apa pun, tetaplah racun. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan lebih menekankan keseimbangan ekologis daripada intervensi terhadapnya.
Mayselina menjelaskan bahwa praktik di Wonderfarm dibangun melalui beberapa prinsip utama. Pertama, pada kebun sayur dan sawah organik, penggunaan bahan kimia sintetis ditiadakan.
Kedua, membuat kompos yang memanfaatkan sumber daya sekitar sehingga siklus nutrisi menjadi lebih berkelanjutan dan mandiri. Ketiga, dalam pengendalian hama, pendekatan yang digunakan bukan eliminasi, melainkan integrasi melalui pemanfaatan predator alami.
Lebih jauh, ia merefleksikan bahwa praktik tersebut bukan sekadar teknik pertanian, melainkan cara pandang terhadap relasi manusia dengan alam. Sistem ini menitikberatkan pada keberlanjutan lingkungan dan memposisikan manusia sebagai perawat ekosistem.
Presentasi lain dari Shanny Ngep (Administrasi Negara) turut memperkaya diskusi, khususnya dalam melihat keterkaitan antara praktik lokal dengan aspek kelembagaan dan kebijakan publik.
Ia mengaitkan pengalaman lokakarya dengan pengalamannya di Papua, daerah asalnya. Shanny menyoroti bahwa dalam pengelolaan pangan lokal, perempuan memiliki peran yang setara, bahkan kerap menjadi aktor utama dalam mengelola sumber daya secara mandiri.
Menurutnya, praktik tersebut tidak hanya mencerminkan ketahanan pangan, tetapi juga menunjukkan kepemimpinan dan kemandirian perempuan di tingkat komunitas. Dalam sesi diskusi, berbagai pertanyaan dan tanggapan muncul terkait bagaimana sistem pangan lokal dapat diperkuat di tengah dominasi sistem pangan modern.
Berbagai testimoni dari peserta lokakarya, panitia, maupun peserta seminar memperkuat kesan bahwa model pembelajaran berbasis pengalaman di tapak bersama pelaku ini merupakan pendekatan yang inovatif dan relevan. Metode ini dinilai mampu membuka ruang eksplorasi, mendorong rasa ingin tahu, serta menjembatani kesenjangan antara teori di kelas dan praktik di lapangan.
Eksperimen pembelajaran yang diinisiasi Tim Harvest Unila, yang mengintegrasikan observasi lapangan, interaksi sosial, dan refleksi akademik, dinilai sangat dibutuhkan di tengah kompleksitas tantangan pembangunan saat ini.
Selain memperkaya pemahaman substantif, pendekatan ini juga membentuk sensitivitas sosial, empati, dan kemampuan berpikir multidisipliner. Pembelajaran ini turut menjadi kontribusi Unila dalam mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), melalui pendekatan experiential learning yang membawa mahasiswa belajar dari realitas (pengalaman) empiris.
Prof. Noverman Duadji, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama FISIP Universitas Lampung, dalam tanggapannya di akhir diskusi menegaskan pentingnya model pembelajaran seperti ini dalam pendidikan tinggi. Ia menyampaikan pengalaman lapangan mampu mengisi kesenjangan antara teori di kelas dan praktik di masyarakat.
Diskusi juga menggarisbawahi bahwa sistem pangan lokal tidak dapat dilepaskan dari dimensi sosial, ekologis, dan kebijakan. Oleh karena itu, pendekatan multidisiplin menjadi vital.
Salah satu benang merah yang muncul adalah pentingnya pembelajaran lintas disiplin. Mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan menyadari memahami sistem pangan membutuhkan keterhubungan antara ilmu pertanian, sosiologi, kebijakan publik, hingga perspektif kewarganegaraan.
Seminar ini menjadi jembatan penting antara pengalaman empiris dan pengembangan gagasan kritis. Lebih dari sekadar presentasi, forum ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk memposisikan diri sebagai bagian dari upaya transformasi sistem pangan yang lebih berkelanjutan. [Rilis]



