(Unila): Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) menyelenggarakan ujian promosi Doktor pada Kamis, 2 April 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Aula K FKIP Unila.
Sidang promosi doktor dibuka Dr. Albet Maydiantoro, M.Pd., selaku Dekan FKIP Unila sekaligus ketua tim penguji.
Turut hadir para penguji lainnya, yakni Prof. Hasan Hariri, S.Pd., MBA, Ph.D., selaku Sekretaris tim penguji; Prof. Dr. Sunyono, M.Si., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, sebagai anggota tim penguji I; Prof. Dr. Agus Suyatna, M.Si., sebagai anggota tim penguji II; Prof. Dr. Undang Rosidin, M.Pd., selaku promotor; Dr. Dwi Yulianti, M.Pd., selaku ko-promotor I; serta Prof. Dr. Sugeng Sutiarso, M.Pd., selaku ko-promotor II.
Selain itu, turut hadir pula Dr. Dedy Miswar, S.Si., M.Pd., selaku Penguji Internal; serta Prof. Dr. Suparman, M.Si., D.E.A., dari Universitas Ahmad Dahlan selaku penguji eksternal.
Pada kesempatan tersebut, Karsoni Berta Dinata memaparkan disertasi berjudul “Model Etno-Pedagogi Berbasis Proyek (EPSISPRO) untuk Pengembangan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Karakter Gotong Royong.”
Disertasi ini dilatarbelakangi tantangan global yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi, dinamika perubahan sosial budaya, perubahan lingkungan, serta tuntutan dunia kerja di masa depan. Kondisi tersebut menuntut hadirnya pendidikan yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan adaptif terhadap perubahan.
“Model ini dilatarbelakangi tantangan global saat ini, di mana perkembangan teknologi sangat berkembang besar. Kemudian dinamika perubahan sosial, perubahan lingkungan, dan tantangan dunia kerja di masa depannya terus berubah. Kondisi ini tentu saja membentuk sumber daya berkualitas untuk menghadapi tantangan, dan sumber daya berkualitas hanya didapat dari pendidikan berkualitas,” jelas Karsoni.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model etno-pedagogi berbasis proyek (EPSISPRO) yang memiliki tingkat validitas, kepraktisan, dan keefektifan tinggi dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif serta karakter gotong royong siswa.
Model EPSISPRO dikembangkan sebagai inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan teori etnomatematika ke dalam pembelajaran berbasis proyek. Pendekatan ini menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga menanamkan nilai-nilai budaya dan karakter.
Hasil penelitian menunjukkan model EPSISPRO memiliki tingkat kelayakan yang sangat baik. Hal ini ditunjukkan melalui validitas isi yang tinggi berdasarkan penilaian para ahli, serta tingkat kepraktisan yang tinggi yang tercermin dari keterlaksanaan pembelajaran di kelas dan respons positif siswa.
Selain itu, model pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan EPSISPRO terbukti lebih efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan karakter gotong royong dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.
Dalam implementasinya, model ini menekankan lima karakteristik utama, yaitu kolaborasi, imajinasi, aksi, abstraksi, dan konstruksi. Kelima karakteristik tersebut menjadi ciri dalam setiap tahapan pembelajaran, sehingga mendorong siswa untuk aktif, kreatif, serta mampu membangun pemahaman secara mandiri dan kolaboratif.
Lebih lanjut, model EPSISPRO mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal, seperti sakai sambayan, serta penguatan kompetensi literacy, matheracy, dan technoracy dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini tidak hanya menjadikan budaya sebagai konteks pembelajaran, tetapi juga sebagai landasan dalam membangun pengalaman belajar yang bermakna.
Temuan penelitian ini menunjukkan etnomatematika tidak hanya berfungsi sebagai ilustrasi dalam pembelajaran, tetapi juga sebagai pendekatan yang mampu menghubungkan pengalaman budaya dengan konsep matematika secara lebih mendalam, sekaligus menjadi sarana penanaman nilai karakter, khususnya gotong royong.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa efektivitas model EPSISPRO cenderung lebih kuat dalam memperkuat nilai gotong-royong pada lingkungan dengan budaya kolektif yang tinggi. Di sisi lain, model ini juga berpotensi menjadi pendekatan pembelajaran untuk menumbuhkan nilai kebersamaan pada lingkungan yang cenderung individualistik.
Melalui penelitian ini, diharapkan model EPSISPRO dapat diimplementasikan secara lebih luas dalam dunia pendidikan sebagai inovasi pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, tetapi juga memperkuat nilai-nilai karakter, khususnya gotong royong, dalam membentuk generasi yang unggul, kolaboratif, dan berakar pada budaya bangsa. [Magang_Yuki Azzahra/Samsul Surnadi]



