Mahasiswa KKN Lakukan Pemetaan Kawasan Rawan Banjir di Sukabumi Indah

0
60

(Unila): Mitigasi bencana bukan sekadar respons saat bencana terjadi, melainkan langkah preventif yang terukur dan berbasis data.

Berangkat dari kondisi geografis Kelurahan Sukabumi Indah yang memiliki beberapa titik dataran rendah serta sistem drainase yang perlu dioptimalkan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Sukabumi Indah 2 Universitas Lampung (Unila) melaksanakan program kerja pemetaan kawasan rawan banjir sebagai upaya mitigasi berbasis ilmiah.

Program ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya keresahan warga setiap musim hujan. Beberapa wilayah, khususnya di Lingkungan 2 dan 3 yang pernah mengalami banjir genangan hingga menyebabkan rumah warga terendam.

Berdasarkan hasil observasi lapangan, penyumbatan sedimen dan sampah di titik-titik krusial saluran air menjadi pemicu utama luapan ketika intensitas hujan tinggi. Melihat kondisi tersebut, tim KKN berupaya mengubah keresahan masyarakat menjadi tindakan preventif yang terukur melalui pemetaan kawasan rawan banjir.

Tujuan utama program ini adalah menyediakan peta digital dan fisik yang akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan pembangunan desa.

Data yang digunakan dalam pemetaan bersumber dari berbagai referensi resmi, antara lain peta tutupan lahan, sungai, kemiringan lereng, dan ketinggian lahan dari Badan Informasi Geospasial (BIG); peta jenis dan tekstur tanah dari FAO; serta data curah hujan CHIRPS untuk mengidentifikasi titik-titik rawan.

Data tersebut kemudian diolah menggunakan metode skoring dan overlay untuk menghasilkan peta kerawanan banjir yang komprehensif.

Program pemetaan ini mencakup seluruh wilayah Kelurahan Sukabumi Indah dan dilaksanakan selama minggu pertama hingga minggu kedua masa KKN. Kegiatan dimulai dari observasi lapangan, pengumpulan dan verifikasi data, hingga finalisasi peta digital yang kemudian diinput ke dalam aplikasi ArcGIS.

Dengan pendekatan ini, hasil pemetaan tidak hanya berbentuk visual, tetapi juga memiliki dasar analisis spasial yang terukur.

Dalam pelaksanaannya, tim KKN berkolaborasi erat dengan perangkat desa, Kepala Kelurahan, Sekretaris Kelurahan, BABINSA, Ketua Lingkungan 1 hingga 3, Ketua RT/RW, serta tokoh masyarakat.

Koordinasi dilakukan secara formal melalui forum diskusi dan secara informal melalui komunikasi langsung dengan pihak kelurahan. Setiap titik rawan yang ditandai tidak hanya berdasarkan analisis data, tetapi juga dikonfirmasi melalui pengalaman dan informasi dari perangkat desa serta masyarakat setempat.

Respons masyarakat terhadap program ini sangat positif. Warga turut aktif membantu menunjukkan lokasi-lokasi yang sering terdampak banjir dan memberikan informasi detail mengenai kondisi lapangan.

Pada saat peresmian pemetaan di Lingkungan 2, tim KKN juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai alasan pemilihan metode pemetaan serta pentingnya mitigasi berbasis data.

Edukasi ini menekankan bahwa mitigasi merupakan investasi jangka panjang, karena tanpa pemetaan yang jelas, bantuan maupun pembangunan infrastruktur berisiko tidak tepat sasaran.

Tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan program meliputi biaya pembuatan peta yang cukup besar serta kesulitan dalam menentukan titik banjir secara presisi. Namun, kendala tersebut dapat diatasi melalui dukungan dan partisipasi aktif masyarakat yang membantu memastikan keakuratan lokasi terdampak.

Hasil akhir program ini diserahkan dalam bentuk Peta Rawan Banjir Desa Sukabumi Indah. Peta tersebut diharapkan dapat menjadi dokumen pendukung dalam pengajuan dana desa maupun proposal pembangunan ke tingkat kota atau kabupaten, khususnya untuk prioritas perbaikan drainase dan pembangunan tanggul.

Selain itu, peta dirancang agar mudah diperbarui (updateable), dan perangkat desa diberikan pemahaman mengenai cara membaca serta memperbarui data sederhana tersebut, sehingga program tetap berkelanjutan meskipun masa KKN telah berakhir.

Masyarakat menyambut baik inisiatif ini. Banyak warga merasa terbantu karena selama ini persoalan banjir hanya dibicarakan saat kejadian berlangsung, sementara melalui pemetaan ini solusi mulai dirancang sebelum musim hujan tiba.

“Harapannya, program pemetaan titik kawasan banjir di daerah Sukabumi ini adalah supaya desa memiliki data dan peta wilayah rawan banjir yang jelas dan bisa digunakan dalam jangka panjang. Dengan adanya peta tersebut, pemerintah desa dapat lebih mudah dalam merencanakan pembangunan, seperti perbaikan drainase, penataan lingkungan, serta penentuan jalur evakuasi saat terjadi banjir,” pesan tim KKN [Magang_Shalu Munadiyan]