(Unila): Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Dr. Karomani, M.Si., menjadi narasumber pada Webinar “Bela Negara Melawan Teror Covid-19 dan Hate Speech dalam Era Kenormalan Baru”.
Webinar diselenggarakan Universitas Negeri Semarang (Unnes) bekerja sama dengan Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa (FRPKB) secara virtual, Selasa, 31 Agustus 2021.
Dalam webinar tersebut, Rektor Unila menyampaikan materi berjudul “Bela Negara Melalui Penguatan Karakter Bangsa dalam Era Digital untuk Mengeliminasi Radikalisme, Terorisme, dan Intoleransi”.
Rektor yang juga Ketua FRPKB itu menyampaikan adanya perbedaan pada karakter masyarakat Indonesia dahulu dan saat ini. Perbedaan tersebut terjadi karena generasi saat ini berada pada era Revolusi Industri 4.0.
Karakter mayarakat yang gotong royong, sangat toleran, sopan santun, dan dikenal dengan keramahannya mulai terkikis. Sebab dunia makin menyempit dan manusia, mesin, serta data, saling terkoneksi.
Tidak dapat dipungkiri, era 4.0 memiliki sisi positif bagi setiap aspek kehidupan. Kendati demikian Prof. Karomani menekankan bahwa sisi negatif dari perkembangan teknologi dan ledakan informasi akan memberi ancaman yang berdampak pada ketahanan bangsa.
Ancaman-ancaman tersebut antara lain narkoba, cyber, radikalisme, ekstrimisme, dan toleransi yang dapat merusak ideologi bangsa. Realitas di ruang publik digital juga menggambarkan bahwa saat ini bangsa Indonesia telah keluar dari karakternya.
Studi microsoft menyebutkan bahwa etika komunikasi warga dan Indonesia, khususnya di media sosial, sangat memprihatinkan dibanding negara lain.
Sampai tahun 2021, Kominfo telah menutup lebih dari 2 juta situs dan akun negatif. Tercatat sebanyak 1,387 hoaks tersebar di Indonesia sepanjang pandemi Covid-19.
Untuk mengantisipasi perkembangan zaman dan ancaman-ancaman tersebut, Prof. Karomani mengungkapkan, masyarakat Indonesia dapat kembali kepada kearifan lokalnya masing-masing.
Ia mencontohkan kearifan lokal yang ada di Provinsi Lampung seperti piil pesenggiri, di mana masyarakat Lampung di antaranya harus rajin bersilaturahmi (nemui-nyimah) dan saling bergotong-royong (sakai sambayan).
Dengan nilai-nilai yang ada di dalam kearifan lokal maka radikalisme, terorisme, dan intoleransi akan sulit hadir di tengah-tengah masyarakat. Karena masyarakatnya mudah bersatu bukan akan menjadi individualis.
“Kearifan lokal sangat baik untuk mengantisipasi perkembangan yang mengikis ideologi dan budaya kita. Maka itu, kita di tengah modernitas harus lebih akomodatif terhadap budaya-budaya lokal supaya bisa mengantisipasi aspek negatif dari modernisasi itu sendiri”.
Kolaborasi antaraktor juga diperlukan dalam upaya menjaga ketahanan dan bela negara. Para aktor tersebut yakni akademisi, pemerintah, media, dan ormas.
Sebelum menutup acara, Prof. Karomani menyampaikan beberapa best practice yang dilakukan Unila terkait dengan penguatan karakter.
Di antaranya melakukan reorientasi peraturan kelembagaan kemahasiswaan dan supervisi terhadap aktivitas lembaga kemahasiswaan, reposisi fungsi, dan manajemen kampus sebagai sarana penguatan karakter bela negara.
Selanjutnya profesionalisme pengampu mata kuliah dan konten yang berkaitan dengan penanaman karakter bela negara, surveillance terhadap semua dosen dan tenaga kependidikan terkait karakter bela negara dalam promosi karir dengan tetap menjunjung tinggi nilai, menginisiasi pembentukan forum rektor penguat karakter bangsa, serta melakukan modernisasi beragam dan loyalitas terhadap nasionalisme.
Selain Rektor Unila, turut hadir pula Prof. drh. Wiku Adisasmito, M.Sc., Ph.D., Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, dan Rektor Universitas Pertahanan Laksamana Madya TNI Prof. Dr. Ir. Amarullah Oktavia, S.T., M.Sc., DESD., sebagai narasumber.
Webinar Bela Negara juga dihadiri para rektor yang tergabung dalam FRPKB, pimpinan Unnes dan peserta webinar. [Humas/Angel]


