(Unila): Universitas Lampung (Unila) dan IPB University menyelenggarakan sharing kelembagaan, di ruang sidang utama lantai dua Rektorat Unila, Jumat, 5 Maret 2021. Kegiatan dilakukan untuk memererat silaturahmi kedua perguruan tinggi.
Rektor Unila Prof. Dr. Karomani, M.Si., saat membuka kegiatan menyambut baik kehadiran pimpinan IPB University berserta jajaran. Ia berharap, pertemuan ini dapat menambah wawasan sehingga Unila mampu meningkatkan dan memperkuat kelembagaan.
Pada kesempatan yang sama Rektor IPB Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menyampaikan beberapa pandangan. Salah satunya terkait kerja sama keduanya.
Saat ini kedua perguruan tinggi baik IPB maupun Unila mau tidak mau harus saling belajar memperkuat kerja sama dalam menghadapi ambiguity dan uncertainty dampak pergeseran peta kompetisi.
IPB dan Unila tidak akan lagi dihadapkan dengan persaingan antarinstitusi maupun lembaga melainkan sesuatu hal yang baru dan berbeda.
“Kita memahami dunia ini berubah. Peta kompetisi berubah, maka memang tidak bisa tidak, kita harus saling belajar dan terus belajar,” ujar Ketua Forum Rektor Indonesia tersebut.
Siapa pun sekarang bisa menuju puncak dengan kemampuan yang dimiliki. Namun untuk bertahan di puncak dibutuhkan karakter yang mampu belajar dari berbagai aspek.
Seperti halnya IPB yang tahun lalu berada di urutan satu pemeringkatan klasterisasi. IPB tidak berhenti begitu saja. Untuk mempertahankan posisinya, IPB selalu belajar, berlatih, bekerja keras, dan berusaha, karena itu adalah bagian dari proses yang harus terus dipacu.
Hal selanjutnya disampaikan Prof. Arif, adalah kekuatan growth mindset sebagai pendukung proses belajar. Menurutnya, tidak ada batasan dalam mempelajari sesuatu hal selama ada kemauan. Untuk itulah dibutuhkan mindset yang terus berkembang agar mampu menciptakan peluang lebih banyak.
“Saya meyakini kalau kemampuan itu tidak terbatas selama punya kemauan. Kalau kita punya kemauan sangat tinggi, kemampuan bisa diasah. Kalau kemampuan bisa diasah, kesempatan juga bisa diciptakan,” katanya.
Growth mindset juga sangat diperlukan di masa mendatang. Menurut beberapa pakar, kekuatan tidak lagi terletak pada kemampuan untuk belajar dari best practice melainkan pada kemampuan mengembangkan future practice.
Dengan mengembangkan kekuatan future practice artinya dapat meningkatkan kreativitas, imajinasi, dan berinovasi.
Dengan growth mindset dan berorientasi kepada kekuatan future practice, maka sebuah lembaga mampu menjadi leader bukan follower. Seperti halnya negara-negara maju dan hebat saat ini yang fokus pada inovasi.
Keinginan menciptakan sesuatu yang baru, menjadi trendsetter, dan mengendalikan perubahan, menjadikan mereka mampu membangun negara yang hebat.
Jika semua rakyat Indonesia adalah orang-orang berorientasi pada perubahan practice dan menjadi trendsetter perubahan, ia yakin bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan hebat seperti bangsa lainnya.
Untuk itu, Guru Besar Bidang Ekologi-Politik ini mendorong Unila agar mulai berorientasi pada kekuatan future practice yang meyakini bahwa batas kemampuan tidak terbatas. Dengan demikian visi Unila dapat diubah dari top ten university, menjadi nomor satu di dunia.
Ia meyakini, Unila sangat bisa menjadi nomor satu di Indonesia dimulai dari adanya kemauan. Jika Unila sudah bertekad menjadi universitas terbesar di dunia, maka Unila akan terus berusaha menjadi trendsetter yang hebat.
Menanggapi pemamparan dari Prof. Arif, Rektor Unila mengucapkan terima kasih atas wawasan dan inspirasi yang diberikan IPB. Dirinya menyatakan siap untuk bergerak menuju ke arah yang lebih baik.
Kegiatan turut dihadiri Prof. Dr. Ir. Erika B. Lakoni, M.S., Wakil Rektor Bidang Inovasi, Bisnis, dan Kewirausahaan IPB Dr. Ir. Arief Daryanto, DipAgEc, M.Ec., Dekan Sekolah Vokasi IPB Dr. Ir. Syarifah lis Aisyah, M.Sc., Agr., Direktur Kerja sama dan Hubungan Alumni IPB Rici TH Pranata. [Humas/Angel]



