Perspektif Pendekatan Ilmu Sosial Era New Normal

0
1594

(Unila): Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Dr. Karomani M.Si., membuka secara resmi Webinar Jurusan Pendidikan IPS Seri 6 FKIP bertajuk “Perspektif Pendekatan Ilmu Sosial dalam Era New Normal”, Rabu (15/7/2020) via Zoom.

Seminar online yang diselenggarakan Jurusan IPS FKIP Unila ini diikuti 1.028 peserta dari seluruh Indonesia. Para peserta terdiri dari guru, dosen, masyarakat umum, dan para praktisi.

Selain mengundang Danrem 043/Garuda Hitam Brigjen TNI Toto Jumaryono, S.S., M.I.Kom., sebagai narasumber,  penyelenggara menghadirkan pembicara lain yaitu, Guru besar Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Dasim Budimansyah, S.Pd., M.Si., Dr. H. Ahmad Bastian SY Anggota Komisi I DPR RI, serta Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Lampung Dr. Agus Nompitu, S.E., M.P.T.

Kegiatan turut hadir dekan FKIP Unila beserta jajaran, ketua juruan IPS FKIP Unila, para ketua dan sekretaris jurusan di lingkungan FKIP.

Karomani dalam sambutannya menyambut baik penyelenggaraan webinar ini. Ia menilai webinar ini sangat relevan dengan kondisi saat ini yang mana bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat seputar hal yang harus dilakukan dalam menghadapi keterbiasaan baru di masa pandemi Covid-19. Ketentuan itu dilihat dari perspektif pendekatan ilmu sosial.

Guru Besar Ilmu Komunikasi Unila ini menjelaskan, ada beberapa poin yang sangat menarik untuk dibahas dalam webinar tersebut. Salah satunya bagaimana menghadapi new normal dilihat dari perspektif ketahanan nasional. Di situasi yang sulit akibat pandemi seperti saat ini, ketahanan nasional Indonesia harus lebih kuat.

Dari perspektif pendidikan, lanjutnya, bangsa Indonesia perlu didukung sepenuhnya dalam hal penguatan teknologi dan informasi agar pembelajaran daring yang sekarang banyak dilakukan dari mulai tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, bisa merata. Selain itu dapat dijangkau sampai ke pelosok desa. Penguatan IT harus menjadi komitmen bangsa dan fokus pada pembangunan nasional.

Dinilai dari perspektif politik, akademisi harus mampu memberi masukan terhadap proses demokrasi Indonesia agar menjadi demokrasi yang sehat di masa depan. Meskipun Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga setelah Amerika dan India, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di negara ini masih belum baik. Padahal semakin demokrasinya sebuah bangsa, IPK-nya harus semakin baik pula.

“Karena itu saya menyambut baik kegiatan ini dengan topik-topik yang sangat menarik tadi. Mudah-mudahan nanti ada solusi konkret yang bisa membantu bangsa kita ke luar dari krisis yang disebabkan Covid-19 ini,” imbuhnya.

Di akhir sambutan, Karomani juga mengingatkan seluruh audiens webinar untuk terus menegakkan disiplin yang masih belum terpupuk di masyarakat, khususnya disiplin dalam hal pencegahan Covid-19.

Kedisiplinan suatu bangsa erat kaitannya dengan keberhasilan bangsa tersebut dalam menangani permasalahan Covid-19 seperti yang terjadi di Korea, Cina, dan Jepang. Kurangnya disiplin menurutnya bisa berpengaruh pada tingginya angka penderita Covid di Indonesia. [Humas/Angel]