Buka Kelas Internasional, FEB MoU dengan SMA di Lampung

0
1722
(Unila): Guna meningkatkan daya saing bangsa terkait output pendidikan, Universitas Lampung (Unila) melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) membuka peluang bagi pelajar Lampung mendapat pendidikan kelas internasional di Unila.

FEB mengundang sejumlah kepala sekolah SMA, SMK, dan MA di Bandarlampung menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama penerimaan calon mahasiswa baru kelas internasional di kampus setempat. Penandatanganan MoU berlangsung di aula gedung D Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Kamis (14/02/2019).

Dekan FEB Prof. Satria Bangsawan mengatakan, treatment dalam kelas internasional mengadopsi kurikulum internasional dengan menggunakan bahasa bernuansa global. Mahasiswa kelas internasional terhimpun dari seleksi dan penyaringan sejak awal MoU dilaksanakan.

Tak berbeda dengan syarat masuk jalur lain, kelas internasional mensyaratkan nilai TOEFL minimal 500 atau nilai IELST minimal 5,5 atau 6, serta mengikuti tes tertulis dan wawancara.

Kelas yang dibuka yakni Jurusan Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Pemasaran dan Keuangan. Kuota yang disiapkan sebanyak 20 mahasiswa dengan prioritas mahasiswa asal Lampung.

“Kelas internasional ini adalah jalur khusus, disaring berdasarkan standar dan prosedur yang kita miliki. Mata kuliah disesuaikan kurikulum internasional dan berbahasa bilingual di mata kuliah tertentu,” urai Satria saat diwawancarai.

Satria juga menambahkan, kurikulum internasional memudahkan mahasiswa ketika bersaing dengan mahasiswa negara lain. FEB juga menyiapkan training of trainer untuk alumni agar tidak hanya mencari kerja tetapi menciptakan lapangan pekerjaan.

Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Bujang Rahman mengatakan, kelas internasional dibuka untuk mempersiapkan lulusan berdaya saing dunia sekaligus implementasi Unila mewujudkan masyakarat belajar berbasis sistem global.

Bujang menambahkan, hardskill dan softskill dapat terintegrasi melalui kelas internasional yang diinisiasi FEB ini. Terlebih di tengah kekhawatiran menghadapi era revolusi industri 4.0.

“Dengan model MoU ini, Unila mudah mencari kantong-kantong calon mahasiswa berkompeten dan berkualitas. Kolaborasi yang dibuat ini adalah salah satu upaya mempersiapkan semua hal itu,” terang Bujang.

Profesor Manajemen Pendidikan Unila ini berharap, institusi pendidikan dapat mengarahkan lulusannya menguasai literasi teknologi, data, dan humanis,” tutup Bujang.[Riky/Inay_Humas]