(sumber foto: Humas Universitas Lampung]
(Unila): Tiga mahasiswa Universitas Lampung (Unila) dari program studi Ilmu Komputer Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam (Ilkom FMIPA), yakni Aris, Brian Arnesto Sitorus, dan Putra Pribowo.
Tampil menjadi salah satu peserta dari ribuan mahasiswa dalam ajang bergengsi Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) beberapa waktu lalu, 29 Agustus hingga 1 September.
Meski belum dapat membanggakan Unila untuk meraih medali diajang bergengsi tersebut, namun mereka mampu masuk di ajang pimnas yang bersaing dengan 120 tim dari kampus ternama.
Brian Arnesto Sitorus salah satu mahasiswa yang mengembangkan aplikasi pakar “Kasih Ibu” mewakili rekannya saat ditemui Tribun Lampung Senin (3/9) mengatakan bahwa aplikasi pakar kasih ibu ini sengaja dibuat untuk mendeteksi keluhan ibu hamil dan penyakit anak.
Terdapat empat fitur utama pada aplikasi yang berlatar belakang warna biru tersebut, di antaranya perawatan ibu hamil, deteksi penyakit anak, arti nama dan konsultasi.
Fitur perawatan ibu hamil itu masyarakat bisa menanyakan kepada aplikasi tersebut mulai dari keluhan ibu hamil pada trimester I hingga III, tips ibu hamil untuk periksa kehimalan itu kapan saja.
Lalu hal yang harus dihindari oleh ibu hamil, perkembangan janin, tanda bahaya persalinan, cara memerah dan menyimpan ASI hingga apa saja yang harus dibawa saat akan melahirkan juga ada anjurannya.
Termasuk juga data 24 penyakit berikut penjelasannya dan pencegahannya juga terdapat aplikasi ini, serta kolom konsultasi juga masyarakat dimanjakan bisa diketahui penyakit apa yang diderita sang anak itu.
“Berharap dengan aplikasi ini bisa bermanfaat bagi masyarakat terutama bagi ibu hamil yang diharuskan untuk mengunduh aplikasi ini di playstore dan langsung bisa digunakan. Dengan kita berbagi informasi ini harapannya angka kematian bayi itu bisa menurun dan masyarakat juga terhindar dari penyakit,” katanya.
Sebenarnya aplikasi ini muncul bukan begitu saja, akan tetapi banyak pengalaman yang berkesan dibalik pembuatan aplikasi ini. Dimana sang ibu, 10 tahun silam saat dirinya masih SMP mengalami penyakit miom atau kanker rahim yang telah divonis dokter tak bisa hidup lebih lama lagi.
Lalu dirinya merasa bersalah karena saat itu dirinya harus pergi dari kampung halaman Pematang Siantar untuk melanjutkan studi kejenjang perguruan tinggi. Akan tetapi pada saat itu Brian pun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan studi tersebut.
Akan tetapi pada saat itu 2013 silam ada tawaran beasiswa untuk dirinya pergi ke German, melihat kondisi ibunda sakit iapun menunda studinya itu. Jadi selama dua tahun iapun bekerja lepas untuk selalu bisa bertemu dengan sang ibunda.
Karena baginya pendidikan tinggi itu bukan jaminan untuknya bisa membahagiakan orangtuanya semasa hidup ini dan harta yang paling berharga itu orangtua.
Secara mukjizat pada saat dirinya hendak merantau ke Lampung, penyakit miom yang diderita ibundanya itu hilang saat di medical check up oleh dokter. Hingga sekarang ini orangtuanya masih sehat dan vonis itu mengutkannya bahwa kausa tuhan itu ada.
Berlangsung penyakit yang diderita itu sudah cukup membaik akhirnya pada 2016 itu dirinya melanjutkan pendidikannya dengan mendaftarkan diri ke Unila melalui program bidikmisi pada prodi ilkom tersebut.
Berkenalan dengan mahasiswi kebidanan yang menguatkan dirinya untuk terus belajar tentang rahim dan juga tentang kehamilanpun. Desakan itu menguatkannya juga untuk mengetahui penyakit miom tersebut.
Alhasil pada April lalu dirinya bersama kedua rekannya memberanikan diri untuk membuat aplikasi tersebut. Suka duka pastinya dilalui olehnya dan bersama dua rekannya itu, selain tidur menjadi berkurang hingga membagi waktu kuliah juga membuatnya memutar otak.
Hingga akhirnya iapun memberanikan diri untuk mengikutsertakan program karsa cipta ini diajang pimnas, dan proposal tersebut juga diterima oleh Kemenristek Dikti hingga akhirnya bisa mengikuti ajang bergengsi tersebut.
Ditambahkan Aris yang merupakan ketua kelompok bahwa pembuatan aplikasi itu dengan pembagian tugas dirinya sebagai analisis sistem yang juga ketua tim, Putra sebagai programmer dan Brian itu sebagai designer sekaligus juru bicara kelompok “Kasih Ibu”.
Pada fitur arti nama itu terdapat 200an nama yang telah disajikan pada aplikasi yang dibuatnya ini, dimana penyajian nama itu berdasarkan pandangan masyarakat hingga pandangan agama.
“Sistem kami ini memang melibatkan pakarnya dibidang kehamilan dan anak, artinya lisensi inilah yang kami jadikan pegangan dan kedepannya akan kami kembangkan lagi seperti lokasi ibu hamil, rumah sakit dan dokter,” katanya.
Jadi nantinya masyarakat bisa mengontak dokter untuk memberikan penanganan kepasien atau ambulan yang akan datang untuk mengambil pasien tersebut. Sejak dibuatnya aplikasi tersebut pada April lalu dan berjarak sebulan aplikasi itu bisa diunggah di playstore.
Hingga saat ini saja sudah ada 162 review dan 350 orang yang memakai aplikasi ini, dan harapannya kedepan aplikasi ini akan disempurnakan lagi hingga didaftarkan di HAKI untuk dipatentenkan.
Saat presentasi disaat arena perlombaan timnya tak sedikutpun grogi karena semuanya telah dipersiapkan secara matang sejak april lalu.[Unila di Media]
Sumber berita: http://lampung.tribunnews.com/2018/09/04/video-aplikasi-kasih-ibu-deteksi-keluhan-ibu-hamil-dan-penyakit-anak?page=3

