Ketua LPPM Kritisi Prodigita-Dikti

0
948

Berbagai kalangan di Lampung pesimis program digitalisasi pendidikan tinggi (Prodigita-Dikti) yang digagas oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (kemenristekdikti) bisa diterapkan tahun 2016.

Salah satunya Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unila Dr. Eng. Admi Syarif. Dia menilai digitalisasi pendidikan tidak bisa dilaksanakan serentak mulai tahun depan. Sebab banyak kendala yang akan ditemui. Diantaranya, minimnya jumlah dan kompetensi SDM dosen yang mengusai konten maupun alat-alat teknologi informasi. Sehingga, perlu langkah penerapan secara simultan, agar tidak terkesan tergesa-gesa.

Apalagi harga alat-alat teknologi informasi berbasis digital saat ini masih terbilang mahal. Sedangkan, budgeting tiap perguruan tinggi tidak sama, terlebih PTN yang dananya bersumber dari pemerintah.

“Banyak problem yang dihadapi. Internal, kita masih belum cukup SDM-nya. Eksternalnya, ketersediaan alat-alat dan jaringan (online) belum cukup. Apalagi infrastruktur kita belum memadai. Kalau ditanya 2016, belum siap semua,” terangnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurutnya, prodigita dikti sudah seharusnya terealisasi sejak beberapa tahun lalu. Dia mengakui mutu kualitas digitalisasi pendidikan di Indonesia kalah tertinggal dibandingkan Singapura dan Malaysia yang sudah lebih dulu menggalakkan program ini.

“Sebenarnya wajar jika program ini baru mau dimulai di negara kita tahun depan. Alasannya karena negara kita ini luas, sehingga dana yang dbutuhkan kampus lebih banyak ketimbang negara-negara Asia Tenggara lain. Tapi apapun kondisinya, prodigita dikti harus diterapkan karena desakan teknologi yang semakin maju,”  ujar doktor lulusan Jepang ini. [Naufal A. Caya]