Rizky Lebih Mengenalkan Indonesia di Negeri Kangguru

0
1976
Risky_Kurnia
Risky Kurnia (duduk-kiri) bersama member Australia-Indonesia Youth Exchange Programe (AIYEP).

SALAH satu ruang kelas Parramatta High School, Sydney, kota terbesar di Australia dan ibu kota negara bagian New South Wales begitu riuh. Para siswa multi etnis tampak antusias menghadapi pelajaran Bahasa Indonesia dari guru baru mereka.

Guru berperawakan mungil ini merupakan mahasiswa magang dari Indonesia, tepatnya Provinsi Lampung. Adalah Rizky Kurnia Wijaya, mahasiswa asal Universitas Lampung (Unila) yang berkesempatan mewakili Indonesia dalam Australia-Indonesia Youth Exchange Programe (AIYEP), sebuah program pertukaran mahasiswa antarnegara.

Di Parramatta High School Rizky tak hanya mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia, melainkan kebudayaan dan kesenian Indonesia. Begitu pula di Dapto High School, sekolah setingkat SMA di Indonesia yang terletak di Kiama, sebuah kota kecil yang terletak 120 kilometer selatan Sydney di daerah pantai selatan New South Wales, Australia.

Betapa terkejutnya Rizky ketika mendapati siswa pada dua sekolah magangnya itu ternyata telah cukup mengenal Bahasa Indonesia. “Ternyata mereka telah mempelajari Bahasa Indonesia sejak duduk di bangku sekolah dasar,” ujarnya kepada tim website Unila.

Pada saat di Senior High School, tuturnya, para siswa di sana diwajibkan memilih untuk mempelajari Bahasa Indonesia atau Bahasa Perancis. Yang memilih mempelajari Bahasa Indonesia pun sangat banyak. Ketika mengajar di kelas, para siswa menurutnya sangat respect dan antusias. Bahkan sebagian dari mereka sudah fasih berkomunikasi.

“Ketika saya ajari beberapa tarian khas daerah pun mereka sangat kegirangan dan berdecak kagum dengan warisan kebudayaan yang kita miliki. Mereka sangat cinta dengan ragam kebudayaan dan keramahan warga Indonesia. Hal tersebut membuat saya semakin bangga menjadi warga negara Indonesia,” kata dia.

Dalam program pertukaran mahasiswa ini, pemuda kelahiran Bandar Lampung, 11 Mei 1992 ini menampilkan pertunjukan kebudayaan Indonesia. Ia mengemas pertunjukan semenarik mungkin. Pertunjukan ini terdiri dari berbagai kesenian daerah Indonesia seperti tari saman, tari kalimantan, tari indang, tarian tarian khas daerah lainnya, juga lagu-lagu dari daerah yang ada di Indonesia.

“Kami juga mengenalkan beberapa pengetahuan tentang Indonesia, dan ragam keistimewaan yang kita miliki. Mereka sangat antusias, sangat senang, dan ingin lebih jauh mengetahui Indonesia. Riuh tepuk tangan penonton selalu kami dengar ketika membawakan berbagai kebudayaan yang disajikan,” kenangnya lagi.

Rizky pun mengaku sangat bangga rasanya ketika mengetahui bahwa budaya Indonesia benar-benar kaya. Menurutnya benar-benar bisa membawa nama baik Indonesia di dunia internasional dan mendapat apresiasi sungguh membanggakan.
Rizky juga mengisahkan awal mula dirinya mengikuti program pertukaran pemuda antarnegara ini. Mulanya ia mendapatkan informasi oleh salah satu rekan dari program beasiswa Beswan Djarum. Pada saat itu ia mengatakan bahwa ada pembukaan untuk mengikuti seleksi program beasiswa ke luar negeri. Meski saat itu ia sendiri tidak mengetahui sedikitpun tentang informasi program beasiswa tersebut.

Tentu saja semua anak muda di Indonesia ingin merasakan pengalaman ke luar negeri, tak terkecuali dirinya. Apalagi bila pengalaman tersebut adalah pengalaman beasiswa yang dibiayai oleh negara. Informasi itu menggugah dirinya untuk ikut serta meraih kesempatan berharga itu. “Awalnya saya tidak memilih program pertukaran ke Australia, tapi program pertukaran ke Kanada,” ujarnya.

Alasannya simpel. Rizky menganggap Kanada merupakan negara terjauh dibandingkan dengan program pertukaran lainnya seperti Australia, China, Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang. “Namun pada saat test seleksi, tim penyeleksi dan para alumni menilai saya lebih cocok untuk mendapatkan pengalaman pada program pertukaran pemuda Australia Indonesia,” kata dia.

Awalnya tidak ada ekspektasi berlebihan bagi Rizky untuk bisa lolos dalam program ini mengingat para alumni yang telah lolos merupakan orang-orang yang kredibel dan memang profesional di bidang kebudayaan dan kemampuan berbahasa. “Jadi saya mengikuti tes seleksi itu dengan lapang dada namun tetap mencoba berusaha semaksimal mungkin, sekuat yang saya bisa,” ujarnya.

Pada saat seleksi pun, anak ke dua dari dua bersaudara ini manilai peserta lainnya merupakan orang yang lebih berkualitas. Bahkan beberapa dari mereka ada yang telah menempuh gelar S-2 dan menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Bandar Lampung. “Rasa down dan pesimistis pasti ada dalam hati ketika seleksi beasiswa dilaksanakan,” akunya.

Untuk mengikuti tes seleksi program Pertukaran Pemuda Antarnegara (PPAN) ini, semua dipersiapkan olehnya dalam waktu singkat. Ia tahu, kemampuan menulis artikel dan menguasai kesenian daerah merupakan bagian dari sarat mengikuti pertukaran pemuda antarnegara ini. Maka untuk menggapai keinginan itu, Rizky kemudian menyusun essay, meminjam pakaian adat Lampung ke tetangga, bahkan latihan menari bedana khas Lampung dengan teman satu kelasnya.
“Untuk mempersiapkan beberapa alat musik khas Lampung pun, ia sempat menghubungi beberapa teman yang berkuliah di jurusan seni tari. Untungnya semua teman-teman membantu dan memberikan dukungan moril untuk bisa terus mengikuti tes ini,” tuturnya.

Setelah dinyatakan diterima, semua hambatan dan kendala tidak berhenti sampai di situ. Rizky harus mempersiapkan banyak hal untuk bisa benar-benar berangkat ke Australia. Misalnya, harus membuat paspor dan mengurus visa, mempersiapkan beberapa cinderamata yang harus dibawa ke Australia, bahkan membuat surat keterangan catatan kepolisian dan persyaratan administrasi lainnya.

Namun yang lebih penting, ia harus lebih mempersiapkan kemampuan diri sendiri untuk bisa bertahan di Australia. Misalnya, Rizky mulai mempelajari bagaimana kehidupan di sana, mencari beragam informasi mulai dari makanan bahkan semakin mempelajari kebudayaan dan kesenian daerah Lampung agar bisa diperkenalkan kepada keluarga asuh dan teman-teman baru di Australia.

Usai mengikuti program pertukaran, banyak sekali pengalaman dan pelajaran baru yang lucu dan mengesankan yang ia dapatkan. Ia pun menceritakan pengalaman menggunakan Dry Toilet yang sangat berbeda dengan di Indonesia yang sebagian besar adalah Wet Toilet dengan bak mandi dan gayung. Lalu makanan setiap harinya tanpa nasi dan rasanya yang amat sangat datar karena sebagian orang di Australia tidak menyukai pedas.

Pengalaman yang ia alami semakin memperluas pola pikir dan mengubah sudut pandangnya selama ini. Yang paling membuatnya kagum adalah Bahasa Indonesia merupakan salah satu pelajaran wajib yang diajarkan sekolah-sekolah di Kota Sydney. “Sangat bangga rasanya melihat anak-anak Australia begitu antusias berlatih Bahasa Indonesia,” kata dia.

Terkait perjalannannya ini, setelah saya melihat dan merasakan sendiri, Australia menurutnya memiliki sistem pendidikan yang lebih baik dibandingkan Indonesia. Mereka menerapkan sistem pembelajaran yang asik dan menyenangkan bagi para murid. Semua murid tidak dituntut untuk pintar dalam semua mata pelajaran, atau pintar dalam pelajaran matematika saja.

Di sana mereka bisa memilih sendiri pelajaran apa yang mereka suka dan sesuai dengan minat juga bakat masing-masing. “Saya paham, sebetulnya tidak ada yang namanya murid bodoh. Yang ada adalah murid yang salah penempatannya, karena setiap pribadi memiliki kepintaran dan keahliannya masing-masing,” kata dia.

Hal tersebut menurut pandangannya berbeda dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, di mana setiap siswa dituntut untuk bisa menguasai semua materi pelajaran. Apabila siswa tidak bisa di salah satu pelajaran, gurunya men-judge siswanya sebagai siswa yang bodoh, sungguh tidak fair.

Di Australia, sambungnya, sedari kecil anak-anak mererka sudah disiapkan mau menjadi apa ke depannya sehingga orang tua mereka bisa lebih fokus dalam memilih pelajaran utama dan memiliki kesiapan mental yang baik. Guru dan orang tua memberikan dukungan dan semangat atas cita-cita mereka. Bukannya mengeneralisir dan memberikan pola pikir bahwa sukses itu hanya bisa diraih kalau kita bekerja di sebuah instansi tertentu saja.

“Mungkin sekarang masih banyak kekurangan yang ada di Indonesia, namun sistem pendidikan kita masih akan terus mengalami peningkatan kualitas dan mutu, walau tidak tahu kapan tepatnya,” pungkasnya.[] Inay