Peneliti Indonesia Temukan Teknologi Tomografi Pemberantas Kanker

0
1755
brain activity
Brain Scanner Activity

(Unila) : Teknik Elektro Universitas Lampung (Unila) berhasil menggelar seminar nasional tentang Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) dan Electro Capacitive Cancer Treatment (ECCT), Senin (13/5), di Auditorium Perpustakaan Unila.

Acara yang dimoderatori oleh Peneliti Bidang Robotik Unila M. Komarudin, S.T., M.T. ini  menghadirkan Prof. Warsito P. Taruno, pakar tomografi dari Indonesia. Warsito termasuk yang pertama mengembangkan tomografi di dunia.

Di hadapan ratusan peserta dari berbagai kalangan,  baik mahasiswa pascasarjana, mahasiswa kedokteran, keperawatan, elektro, para peneliti, dan ahli pengobatan, Warsito mengenalkan penemuannya berupa alat pendeteksi dan pengobatan kanker.

Sedikitnya butuh waktu 20 tahun, Warsito mengembangkan sistem tomografi empat dimensi pertama di dunia. Bersama 10 staf peneliti, Warsito mengembangkan risetnya di sebuah laboratorium sekaligus perusahaannya dengan nama Edwar Technology di Tangerang.

Tahun 2003 Warsito mematenkan sistem algoritma yang digunakan untuk tomografi empat dimensi. Ini merupakan sistem teknologi pemindai empat dimensi pertama di dunia.

Perusahaannya kerap mengerjakan proyek-proyek dari luar negeri. Lembaga antariksa Amerika Serikat (NASA) menjadi lembaga pertama yang mengakui teknologi tomografi temuan Warsito.

Brain Scaner Activity, salah satu alat buatan Warsito, merupakan temuan yang dapat memotret secara real time aktivas otak pada saat menggunakan alat tersebut. Aktivitas otak kemudian dapat dilihat secara langsung pada monitor empat dimensi.

Brain Scanner Activity dapat mempelajari fungsi kerja otak manusia, dapat mendeteksi kelainan kerja otak, dan treatment untuk penyakit-penyakit pada otak.

Warsito dan timnya tengah mengembangkan teknologi tomografi  dengan nama Electrical Volume Tomography atau Tomografi Empat Dimensi agar nantinya dapat digunakan secara legal di dunia kedokteran. Sedikitnya butuh waktu lima tahun ke depan agar alat ini dapat beredar di dunia kedokteran dan dinikmati masyarakat luas.

Warsito mengajak para peneliti di Unila untuk berpartisipasi dalam pengembangan teknologi ini. Secara khusus, ia meminta peneliti dari Teknik Elektro Unila untuk merancang chip elektronik sehingga inovasi ini akan lebih praktis dalam penggunaannya.[]