Unila: Ada enam hal yang menjadi fokus Lampung Mangrove Center (LMC) di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai yang dikelola Universitas Lampung (Unila) dan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur. Pertama, aspek hukum yang mulai diberlakukan sejak tahun 2005-2006. Aspek hukum ini tentu saja melibatkan semua stakeholder, yakni Unila, pemerintah Kabupaten Lampung Timur, dan masyarakat sekitar.
Kedua pengembangan sebagai bioekologi, ketiga sebagai pusat penelitian, keempat untuk pengembagan jaringan yang saat ini sudah bekerjasama dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri, seperti Kementerian Kehutanan, JICA, Saga University, Kyoei University, dan Yokohama University.
Fokus kelima yakni pembangunan sekretariat yang berfungsi sebagai gedung administrasi, dan yang terakhir fokus pada pengembangan sosial ekonominya. Keenam fokus ini sudah berjalan dengan baik, dan kedepannya akan lebih ditingkatkan.
Pemaparan ini disampaikan Dr. Asihing Kustanti, dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Unila yang fokus meneliti perkembangan mangrove bersama dosen dan mahasiswa dari Saga University, Jepang, di Ruang Senat Rektorat, Lantai II, Kamis (22/8).
Turut hadir dalam pemaparan itu, para tim peneliti Unila dan Saga University. Dari Jurusan Kehutanan Unila hadir juga Dr. Melya Riniarti, dan Rara Diantari, M.Sc. Sedangkan peneliti dari Saga University adalah Dr. Yosuke Okinomoto, Prof. Akihiro Nose, dan Prof Tei. Lalu beberapa mahasiswanya yaitu Shaohni Zeng, Takashi Arita, Nozomi Kakimoto, Takashi Iwakiri, Takeshi Yosa, Shota Inoue, Chihiro Ogomori, dan Nao Matsuzaki.
Menurut Asihing, penelitian yang tengah dikerjakan tim adalah “Sustainable Mangrove Management in Lampung Mangrove Center” yang telah dilaksanakan sejak tahun 2004. Sampai saat ini tim bersama LMC Unila sudah menajalankan enam fokus penelitian.
Misalnya, pada aspek hukum sudah dilakukan lokakarya, nota kesepahaman dan ijin lokasi (2005). Dilanjutkan dengan penandaan batas hutan (2207) dan penetapan peraturan daerah pengelolaan terpadu. Lalu untuk pengembangan bioekologi, sosial dan ekonomi terhadap masyarakat sekita juga sudah dilakukan.
“Diantaranya kajian biofisik dan sosial ekonomi, pembentukan kelompok usaha mikro, kecil dan menengah. Tim juga telah membuat peta kerja LMC sehingga terstruktur dan rapi,” timpal Melya Fokus pada aspek pembangunan infrastruktur juga telah menunjukkan progress yang baik. “Tim dan pemerintah setempat telah menyiapkan lahan untuk gedung LMC, pembuatan jalan dan drainase, serta menguji coba mangrove track trail,” terus Melya yang juga ketua Pusat Penelitian Pesisir dan Kelautan Lembaga Penelitian Unila.
Pada intinya, penelitian pada LMC ini memiliki tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan jangka pendeknya adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia antara Unila, pemerintah Kabupaten Lampung Timur, dan masyarakat sekitar.
Lalu meningkatkan menajemen pengelolaan mangrove sebagai pilot project pengembangan yang efektif dan efisien. Lalu terakhir untuk meningkatkan pendapatan asli daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar pantai, baik kesejahteraan sosial maupun ekonomi.
“Sementara tujuan jangka panjangnya adalah untuk menggabungkan dari manajemen pengelolaan mangrove untuk pengembagan yang berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Tujuan jangka panjang ini juga nantinya diharapkan menjadi contoh penggabungan manajemen pengelolaan mangrove secara nasional,” pungkas Asihing. [Andry