Tingkatkan Keterampilan Kader Posyandu, Mahasiswa Unila Gagas Gerakan 3M

IMG_2887
IMG_2887s
IMG_28870
IMG_288702

(Unila): Tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan angka kematian balita hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia.

Salah satu program pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi adalah Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang merupakan garda terdepan dalam meningkatkan kesehatan khususnya bagi ibu dan anak di tengah masyarakat.

Tenaga utama pelaksana posyandu adalah kader posyandu, yang kualitasnya sangat menentukan usaha meningkatkan kualitas pelayanan yang dilaksanakan.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan masih minimnya pengetahuan para kader posyandu. Minimnya pengetahuan kader posyandu mengenai pentingnya upaya promotif dan preventif kesehatan ibu dan anak menyebabkan kader kurang berperan aktif dalam pelaksanaan program posyandu, yang hal ini secara tidak langsung berdampak pada peningkatan angka kematian ibu, bayi, dan balita.

Oleh karena itu, dibutuhkan solusi untuk meningkatkan peran aktif kader posyandu dalam pelaksanaan program posyandu, khususnya dalam upaya promotif dan preventif kesehatan ibu dan anak.

Empat mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung yang terdiri dari Alvin Widya Ananda, Charisatus Sidqotie, Haekal Alfhad, dan Rika Rahmawati di bawah bimbingan dr. Fitria Saftarina S. Ked., M. Sc. mengusulkan program PERIKARDIUM (Pemberdayaan Kader Posyandu Guna Menyukseskan Program Kesehatan Pemerintah Dengan Sistem Gerakan 3M).

Program ini dilaksanakan selama 3 bulan, sejak bulan April hingga bulan Juni dan melibatkan 18 kader posyandu yang terbagi pada tiga dusun di Desa Gunungtiga, Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus yang aksesnya terbilang cukup jauh dari fasilitas kesehatan.

Program ini terdiri dari penyuluhan, pelatihan, simulasi ketrampilan, sharing, dan evaluasi dalam hal penerapan gerakan 3M yaitu mengukur dan mengedukasi status gizi balita, meningkatkan cakupan imunisasi lengkap pada balita, dan meningkatkan kunjungan antenatal care (kunjungan kehamilan) minimal 4 kali pada ibu hamil.

Dalam pelaksanaannya, diberikan pula sarana yang menunjang pelaksanaan gerakan 3M, diantaranya adalah alat pengukur tinggi badan, timbangan badan, dan alat pengukur tekanan darah.

Bu Yati, selaku bidan yang bertugas di Desa Gunungtiga mengakui bahwa program tersebut membantu meningkatkan ketrampilan kader.

“Ya program ini sangat membantu, terutama dalam hal meningkatkan keterampilan kader. Yang sebelumnya tidak bisa mengukur tinggi badan, menghitung status gizi, dan mengukur tekanan darah, sekarang sudah jago. Selain itu, dari pelatihan yang diberikan adik-adik, kader posyandu jadi bisa memberikan edukasi kepada ibu-ibu peserta posyandu. Semoga kegiatannya sukses dan tujuannya bisa tercapai. Aamiin,” Ujar Bu Yati.

Program ini diharapkan dapat meningkatkan ketrampilan kader posyandu dalam upaya promotif dan preventif kesehatan ibu dan anak, menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan balita, serta dapat menjadi salah satu pilihan yang dapat diterapkan di posyandu daerah lainnya sehingga program posyandu dapat terlaksana dengan baik dan optimal.[rilis_Inay/Humas]