President TTSA, Thailand, Kunjungi Unila

37003674_469579563502264_5903463948857901056_o
37005728_469579753502245_2679982961897504768_o
37021334_469579206835633_1857875592368619520_o
37059039_469579220168965_5591251862599761920_o
37068868_469579300168957_279795833476481024_o

(Unila): President of Thai Tapioca Starch Association (TTSA) Mr. Preecha Temprom mengunjungi Universitas Lampung (Unila), Jumat (13/07/2018).

Kehadirannya beserta rombongan disambut hangat Wakil Rektor Bidang Akademik Unila Prof. Dr. Bujang Rahman, M.Si., didampingi Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Prof. Dr. Ir. Muhammad Kamal, M.Sc., dan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Prof. Dr. Mahatma Kufepaksi, M.Sc., serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Warsono, Ph.D.

Pada kesempatan itu Bujang menyampaikan selamat datang kepada Mr. Preecha Temprom beserta rombongan TTSA di Lampung, khususnya di Kampus Hijau. Ia berharap, rombongan selama berada di Lampung dapat menikmati perjalanan karena provinsi ini diperkaya dengan objek wisata. Lampung juga dapat disebut miniatur Indonesia karena berbagai etnik budaya dari seluruh penjuru negeri berada di bumi rua jurai ini.

Guru Besar dari FKIP Unila ini juga menuturkan, Provinsi Lampung merupakan penghasil singkong terbesar di Indonesia. Hal ini mendorong Universitas Lampung mengembangkan penelitian pada bidang ini. “Bahkan peneliti Unila telah mengembangkan singkong sebagai beras (cassava rice). Maka sangat tepat mengembangkan kerja sama penelitian singkong dengan Unila,” paparnya.

Preecha Temprom dalam sambutannya mengatakan, dirinya telah mengunjungi Indonesia sejak lebih dari 40 tahun lalu. Bahkan satu istrinya merupakan warga negara Indonesia. Laki-laki yang menjabat President of TTSA sejak 1986 ini mengaku masyarakat Indonesia sangat ramah terhadap tamu.

Pada pertemuan ini pula, Dr. Ir. Erwin Yuliadi dari LPPM Unila berkesempatan mempresentasikan penelitian yang dilakukan Unila mengenai tapioka (ubi kayu).

Menurutnya, Unila telah bekerja sama dengan pemerintah mengembangkan produksi dan kualitas singkong (tapioka) di Lampung. Hingga 2016, Lampung menghasilkan 33,93 persen tapioka dari keseluruhan produksi di Indonesia. Produksi terbesar berada di Kabupaten Lampung Tengah.

Erwin menyebutkan, Unila juga telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Pada Oktober 2017 lalu, Unila telah menandatangani MoU dengan Kasetsart University, King Mongkut’s University of Technology Thonburi, dan Thai Tapioca Development Institute, Thailand.

Beberapa hal yang menjadi tantangan meningkatkan kualitas dan produksi tapioka di Lampung menurut peneliti dari FP Unila ini adalah kutu putih, klon ubi kayu lama, ketersediaan dan harga pupuk, panen awal, dan teknologi penanaman rendah. Hal ini menjadi tantangan bagi peneliti untuk mendidik petani agar meningkatkan teknologi penanaman ubi kayu.

Prof. Ir. F.X. Susilo, M.Sc. Ph.D., yang juga hadir menambahkan, permasalahan hama kutu putih menyerang bagian daun ubi kayu. Hal ini mengakibatkan daun ubi kayu menjadi keriting dan tanaman rusak.[Caca/Inay_Humas]