Mendagri Ajak Mahasiswa Deteksi Dini Radikalisme Dan Terorisme

34394826_439650696495151_344511838051893248_o
34397573_439651016495119_4990554244772790272_o
34407292_439650956495125_1209888868489232384_o
34415295_439650323161855_4312025871012593664_n
34418476_439650293161858_1119056396147490816_o
34497831_439651029828451_1066133186355920896_o

INDONESIA merupakan negara hukum yang memiliki 7.014 suku dan ribuan bahasa. Sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, Indonesia memiliki ideologi Pancasila. Inti kekuatan bangsa Indonesia adalah kemajemukan dan bhineka tunggal ika yang menjadi harga mati dan final.

Demikian disampaikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia Tjahjo Kumolo, S.H., pada Stadium General Unila Kampus Kebhinekaan yang dihelat di Aula Pertanian, Selasa (5/6/2018).

Sebagai negara majemuk, kata dia, Indonesia memiliki tiga tantangan besar. Tantangan bangsa yang paling berat pertama adalah radikalisme dan terorisme. Saat ini terdapat 382.118 ribu organisasi kemasyarakatan (ormas) di Indonesia.

Hal ini sebagai bukti kemajemukan bangsa dan jaminan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak mendirikan ormas. Namun kehadiran ormas-ormas ini jangan sampai menyimpang dari ideologi bangsa, yakni Pancasila. Oleh karena itu, perlu peran serta mahasiswa untuk menjaga keutuhan bangsa dan memerangi radikalisme juga terorisme.

“Mahasiswa nggak bisa hanya belajar. Tapi harus mendalami agama, beradaptasi dengan masyarakat dan ikut gotong-royong. Ikut mengorganisir masyarakat. Yang perlu kita cermati, siapa pun dia yang punya niat memporak-porandakan NKRI, menjadi lawan kita. Bukan hanya tugas TNI dan Polri, tapi tugas kita semua. Perlu melibatkan semua elemen masyarakat untuk deteksi dini cegah terorisme dan radikalisme. Harus masyarakat lah yang melawan masalah radikalisme dan terorisme,” katanya.

Tjahjo menambahkan, hal kedua yang menjadi tantangan berat bagi bangsa ini adalah narkoba. Mulai dari penggunaan lem hingga sabu. Meskipun pemerintah telah menganggarkan dana rehabilitasi bagi pengguna narkoba, namun dana itu tidak cukup bila dibandingkan dengan jumlah pengguna narkoba yang setiap tahun semakin bertambah.

Tantangan berat yang ketiga, lanjut Tjahjo, adalah korupsi. “Hati hati dengan area rawan korupsi. Korupsi biasanya berada pada wilayah perencanaan anggaran dan mekanisme pembelian barang dan jasa. Hal ini bukan hanya melibatkan eksekutif, legislatif, tapi juga swasta,” ujar Tjahjo.

Tjahjo berpesan, setiap manusia harus punya imajinasi dan impian. Dengan itu, dia memiliki konsep untuk membangun dirinya dan membangun bangsanya. Mahasiswa sebagai bagian dari elemen masyarakat haarus menyadari bahwa pelaku terorisme dan radikalisme tidak mudah dibaca dan diramalkan. Mereka juga memiliki kekuatan doktrin yang luar biasa. Oleh karena itu, setiap individu harus meningkatkan kewaspadaan dan menjaga persatuan.

Senada dengan Mendagri, Rektor Unila. Prof. Dr. Hasriadi Mat Akin. M.P., pada kesempatan yang sama juga mengajak mahasiswa Unila untuk menghargai kebhinekaan. “Kadang mimbar akademik kalau kebablasan dapat menimbulkan radikalisme. Oleh karena itu, silakan berpendapat tapi berdasar. Berdasarkan penelitian. Terorisme di Timur Tengah, justru bukan di kalangan orang awam, tapi pendidikan tinggi. Mari kita antiterorisme untuk semua kegiatan akademik. Seluruh sivitas akademika Unila saling menjaga agar jangan sampai paham radikal bisa tumbuh di Unila,” ajak Hasriadi.

Rektor juga menambahkan, di tengah revolusi industri 4.0, yang ditandai dengan penggunaan internet dan media sosial, mahasiswa diharapkan menggunakan teknologi untuk mendukung keberhasilan dan kesuksesannya kemudian bersama-sama mencegah efek negatif kemajuan teknologi.

Pjs. Gubernur Lampung Didik Suprayitno turut menambahkan, Indonesia dibangun dengan keberagaman bukan seragam. “Kita kedepankan kesamaannya, perbedaannya kita kesampingkan. Dengan menghindari intoleransi dan radikalisme, pembangunan akan berjalan lancar,” tegasnya.[Hisna Cahaya/Inay_Humas]