Disiplin pada Tujuan Antar Munafatin Afifah Raih Predikat Wisudawan Terbaik Magister

(Unila): Di balik predikat Wisudawan Terbaik Dua Program Magister Universitas Lampung (Unila), Munafatin Afifah menyimpan perjalanan yang tidak hanya berbicara tentang capaian akademik. Baginya, sebuah keberhasilan selalu memiliki proses panjang yang sering kali tidak terlihat.

Mahasiswi Program Studi Magister Ilmu Penyuluhan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat itu menyelesaikan studinya dalam waktu 1 tahun 9 bulan. Namun, Munafatin tidak pernah menjadikan predikat wisudawan terbaik sebagai target utama selama menjalani pendidikan.

Sejak awal, ia hanya ingin menyelesaikan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Memahami ilmu, menuntaskan penelitian dengan sungguh-sungguh, dan lulus tepat waktu menjadi tujuan yang terus dijaganya.

“Bagi saya, menjadi yang terbaik bukan tentang menjadi lebih tinggi dari orang lain, tetapi tentang menjadi seseorang yang bisa memberikan lebih banyak manfaat,” ujarnya.

Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan tanpa keraguan. Ada masa ketika tugas, penelitian, revisi, dan berbagai tanggung jawab datang dalam waktu yang bersamaan.

Namun, Munafatin belajar membedakan antara rasa lelah dan ketidakmampuan. Baginya, berhenti sejenak untuk beristirahat bukanlah tanda menyerah, melainkan cara untuk kembali melanjutkan perjalanan dengan lebih kuat.

Keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan terbesarnya untuk terus bertahan. Ia juga selalu mengingat kesempatan untuk belajar dan berkembang yang tidak dimiliki semua orang.

Ketika rasa lelah datang, Munafatin memilih mengubah pertanyaan dari “Kapan ini selesai?” menjadi “Apa yang bisa saya lakukan hari ini agar semakin dekat dengan tujuan?”. Pertanyaan sederhana itu menjadi langkah kecil yang membuatnya kembali bergerak.

Dalam menjaga konsistensi, ia memegang prinsip disiplin terhadap tujuan, tetapi tetap fleksibel terhadap proses. Ia membagi pekerjaan besar menjadi target-target kecil dan tidak menunggu motivasi datang untuk mulai bekerja.
“Motivasi bisa naik turun, tetapi komitmen harus tetap berjalan,” katanya.

Perjalanan akademiknya juga membawanya pada sebuah penelitian mengenai perempuan dalam industri kopi. Melalui tesis berjudul “The Role of Women in the Coffee Industry and Their Contribution to Farmers’ Households in West Lampung Regency”, Munafatin melihat kontribusi perempuan yang kerap hadir tanpa selalu mendapatkan sorotan.

Penelitian tersebut membentuk cara pandangnya terhadap pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Ia memahami bahwa pembangunan bukan sekadar angka, pertumbuhan ekonomi, atau infrastruktur, melainkan juga tentang manusia dan kontribusi yang terkadang tidak terlihat.

Bagi Munafatin, perempuan tidak hanya dapat dipandang sebagai penerima manfaat pembangunan. Mereka juga merupakan aktor yang memiliki peran dalam pembangunan serta ketahanan ekonomi keluarga.

Predikat wisudawan terbaik pun tidak membuatnya merasa telah berjalan seorang diri. Ia mengibaratkan pencapaian tersebut sebagai sebuah bunga yang ia pegang, sementara banyak orang lain telah ikut menanam, menyiram, dan merawatnya.

Ke depan, Munafatin ingin membawa ilmu yang diperolehnya ke dalam dunia kerja dan kehidupan nyata. Ia berharap pencapaian akademik yang diraih tidak berhenti sebagai gelar atau tulisan di dalam tesis, melainkan dapat memberi dampak bagi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

“Pada akhirnya, saya ingin ketika nanti melihat kembali perjalanan saya, saya tidak hanya bisa mengatakan ‘Saya pernah menjadi Wisudawan Terbaik’, tetapi juga bisa mengatakan ‘Ilmu yang saya dapatkan pernah membuat hidup orang lain menjadi sedikit lebih baik’,” tuturnya.

Bagi mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan studi, Munafatin menitipkan satu pesan sederhana yakni jangan terlalu keras kepada diri sendiri hanya karena perjalanan yang ditempuh berbeda dengan orang lain. Sebab, terkadang seseorang tidak perlu mengetahui seluruh jalan yang akan dilalui, melainkan cukup berani melangkah menuju satu tujuan berikutnya. [Magang_Asnia Sundari]