This page was exported from Universitas Lampung [ http://www.unila.ac.id ]
Export date: Mon Nov 20 21:18:35 2017 / +0000 GMT

Berjumpa Lingga di Kandang Rusa




IMGP0839
Rusa Unila

Kandang rusa Unila, fungsinya yang beraneka rupa jauh melampaui keberadaannya yang begitu sederhana.

(Unila) : Sudah sepuluh menit sejak azan salat asar usai berkumandang. Sore itu, Senin 29 Oktober 2012, saya duduk di depan Musala Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila), sekitar 50 meter dari tempat penangkaran rusa Unila, sambil sesekali menengok gerbang kandang rusa Unila. Berharap sesosok pria datang dan membuka gerbang. Penantian saya tak sia-sia. Buktinya, Pak Sutikno yang saya tunggu, akhirnya datang juga. Dua karung rumput dipanggulnya. Gerbang kemudian dibuka. Selanjutnya, tentu saja, kawanan rusa berebut menghampirinya.

Dengan sedikit berlari, akhirnya saya sampai juga di depan gerbang. Girang bukan kepalang. Itulah perasaan saya saat melihat rusa-rusa sibuk melahap makanan. Pria kelahiran Karang Anyar, 10 Juni 1960 itu lantas mempersilakan saya masuk.

Bersama Key, teman saya, saya tak menyia-nyiakan kekesempatan itu. Saya berlari ke sana kemari, menggoda kawanan rusa yang sibuk dengan makanannya. Mata saya kemudian beralih kepada salah satu rusa yang tantuknya paling menjulang. Itu namanya Lingga. Sedikit takut, saya datangi dia. Tatapannya itu sungguh menggetarkan hati dan menciutkan nyali. Saya berdiri di balik pohon yang ada di hadapan Lingga. Ingin sekali menyentuh tanduknya. Tak disangka, kena juga.

Meski bernama Lingga, ia adalah rusa jantan. Lingga datang bersama Kiki dan dan Bimbi. Dua kawan Lingga ini adalah rusa-rusa betina. Mereka semua berjenis Rusa Sambar, dengan nama latin Cervus unicolor. Lingga berasal dari Banyumas, sedang Kiki dan Bimbi dari daerah Pringsewu.

Sebenarnya, mereka datang untuk menggantikan posisi Tamrin (jantan) dan Tarsari (betina). Tamrin dan Tarsari hanya sekitar satu tahun menguasai kawasan berhiaskan kolam, pohon kelapa, pohon kupu-kupu, dan pohon akasia itu. Keduanya didatangkan dari Hotel Kartika, Bandar Lampung. Namun, belum sempat berkembang biak, Tamrin dan Tarsari lebih dulu mati.

Penasaran dengan rusa Unila membawa saya menemui pemangku jabatan utama di Unila. Hari berikutnya saya menyambangi Ruang Kerja Rektor Unila. Tak lain, ingin mendapatkan cerita lebih detail tentang kandang rusa kebanggan Kampus Hijau Unila.

Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., menyambut saya dengan ramah. Salah seorang yang menginisiasi adanya penangkaran rusa di Unila ini mengatakan, Tamrin dan Tarsari mati karena banyaknya sampah plastik yang ada di perutnya. Kemungkinan, mereka banyak memakan plastik saat berada di Hotel Kartika.

Penangkaran rusa di Unila sudah berlangsung sejak sekitar 2002. Rusa Sambar yang menjadi penghuninya merupakan rusa asli Sumatera.

Prof. Sugeng yang juga menjabat sebagai Rektor Unila menuturkan, banyak pihak yang menawarkan rusa totol seperti yang berada di Kebun Raya Bogor. Namun, ia berkeras menolak. Menurutnya, rusa jenis itu bukan rusa Sumatra, “Saya nggak mau karena itu bukan punya kita. Saya ingin yang alami karena dapat berkembang biak dengan baik. Berkembang biak dengan baik dalam arti habitat alami, ada air, pohon, rumput. Tapi karena kandang tidak terlalu besar, kita beri makan tambahan.”

Pada tahun 2007 lalu, kandang rusa yang dilengkapi sebuah kolam di dalamnya ini didiami lima ekor rusa. Sejak hadir Lingga, Kiki, dan Bimbi, datanglah 2 nama lagi, yakni Lina dan Farid. Lina adalah rusa betina hasil perkawinan Lingga dan Kiki, dan Farid dari hasil perkawinan Lingga dan Bimbi.

Selanjutnya, bertambah lagi sederetan rusa yang turut berkubang di kolam penangkaran rusa Unila. Rusa yang paling bungsu bernama Danang. Jantan ini lahir di penangkaran rusa Unila, 12 Januari 2012.  Hobinya istirahat. Selanjutnya, Agung (jantan), lahir di tempat yang sama pada 12 Juni 2012. Agung memiliki hobi yang sama seperti Danang, istirahat.

Bima (jantan) lahir pada 14 Desember 2009, disusul dengan kehadiran Bimo (jantan), pada  23 Desember 2009. Ada juga yang bernama Zaidi. Jantan ini lahir pada Hari Ibu pada 2008 lalu. Selanjutnya, betina yang cukup tua bernama Farida. Ia lahir di tempat yang sama, pada 6 Desember 2007.

Pak Sutikno pernah menimbang rusa ketika baru lahir. Berat rusa saat baru lahir mencapai 35 kilogram, sementara yang dewasa berkisar 200 kilogram.

Tidak ada hal yang terlalu khusus untuk menentukan mana rusa-rusa Unila. Biasanya, siapa yang menunggu kelahiran rusa, itulah yang berhak memberi nama. Sebagian besar nama rusa di Unila  merupakan nama si penunggu kelahiran rusa yang merupakan mahasiswa Unila.

Bila dilihat dari hari lahirnya, rusa-rusa Unila dominan lahir pada bulan Desember. Ya, Desember hingga Januari adalah masanya rusa betina melahirkan. Pada saat yang sama, rusa-rusa jantan mulai melakukan pematahan tanduk karena sudah tidak lagi butuh menarik perhatian betina untuk melakukan proses perkawinan.

Setiap tahun tanduk dipatahkan, tak masalah, karena akan tumbuh kemudian. Cara mematahkannya adalah dengan ditumburkan ke batang-batang pepohonan. Patahan-patahan tanduk rusa selanjutnya dikumpulkan oleh Pak Sutikno dan diletakkan di laboratorium untuk penelitian mahasiswa.

Dari Prof. Sugeng saya baru tahu kalau ekstrak tanduk rusa dapat dijadikan obat kuat atau penambah stamina khusus pria. Tanduk rusa dalam masa pertumbuhan atau disebut Velvet antler yang panjang maksimalnya mencapai 37 centimeter itu, ternyata memiliki kandungan air, bahan larut air, bahan larut ethyl, zat organik, bahan larut alkohol, serta bahan abu (Ca, P, Mg). Kata Prof. Sugeng, obat dari ekstrak tanduk rusa banyak dikembangkan di Kalimantan Timur.

Pada pengobatan tradasional ekstrak tanduk rusa memiliki beberapa khasiat, di antaranya menghangatkan tubuh, memperkuat daya tahan tubuh, menambah darah, meningkatkan daya pikir, dan menguatkan fungsi syaraf.

Guru besar Unila dalam bidang kehutanan dari FP Unila ini bercerita, rusa memiliki kebiasaan yang tidak jauh berbeda dengan mamalia pada umumnya. Sebagian aktivitasnya dilakukan pada malam hari. Siang hari lebih banyak untuk beristirahat. Sore hari adalah waktunya rusa-rusa makan. Tak hanya rumput, rusa-rusa di Unila juga diberi asupan tambahan, seperti wortel, kangkung, dan mantang. Meski ia belum melakukan penelitian, menurut eks Dekan FMIPA Unila ini, usia rusa bisa mencapai 25—30 tahun.

2012-10-29 15.55.31
Penangkaran Rusa Unila

Ada hal unik yang dituturkan Pak Sutikno saat sedang memberi makan para rusa. Ia bilang, rusa Unila memiliki penyakit kutu musiman. Penyakit ini datang dan pergi dengan sendirinya. Sehingga tidak memerlukan penanganan khusus. Meski begitu, Unila tetap mempersiapkan seorang dokter untuk memeriksa keadaan rusa-rusa bila terdapat penyakit serius yang menyerangnya, yakni dokter Mardi Harsono. Pembantu Dekan III FP Unila Ir. Syahrio Tantalo YS, M.P., dari Jurusan Peternakan Unila, juga menjadi pihak yang menangani masalah yang  berkaitan dengan penyakit rusa.

Prof. Sugeng kembali menambahkan, tujuan penangkaran rusa bukan sekadar untuk kegiatan akademik, tapi juga konservasi. “Karena rusa itu sekarang banyak dikejar-kejar, dibunuh, makannya enak, sehingga untuk beberapa hal kita harus lestarikan itu, kalau tidak, nanti gimana?” ujarnya.

Unila merupakan kawan candradimuka pendidikan. Maka, keberadaan kandang rusa tak jauh-jauh dari fungsi pendidikan itu sendiri. Dengan adanya kandang rusa, kata Prof. Sugeng, mempermudah proses perkuliahan. Bila ada mata kuliah yang berkaitan, kegiatan praktek bisa langsung dilakukan. Hal ini tentunya dapat menghemat dana yang dikeluarkan karena lokasi berada di kampus sendiri. Mahasiswa juga dapat melakukan riset untuk kebutuhan skripsi. Tentunya setelah membuat proposal penelitian.

Tak hanya dari pertanian, kata Prof. Sugeng, mahasiswa ekonomi pun dapat melakukan penelitian di sekitar kandang rusa Unila, terutama yang berkaitan dengan ekonomi pariwisata. Ya, benar saja, saat matahari mulai menyingsing ke arah barat, kawasan kandang rusa Unila justru ramai dikunjungi. Sebagian besar adalah masyarakat sekitar Unila, pemuda-pemudi, juga orang tua bersama anak-anaknya.

Unila memang tidak hendak menjadi menara gading bagi masyarakat di sekitarnya. Tak masalah bila ada yang datang dan menikmati kenyamanan udara dan keindahan pemandangan yang dimilikinya. Toh, Unila juga ingin memosisikan diri sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Tapis Berseri. Maklum, kota Bandar Lampung sudah mulai ditanami gedung-gedung beton di sana-sini.

Namun, Rektor Unila tidak membenarkan adanya pengunjung yang memberikan makanan kepada rusa-rusa. “Yang nggak boleh memberi makan satwa. Misalnya dikasih cendol, kan manis, tapi khawatir makan plastiknya, atau makanan luar yang tidak sehat,” terangnya.

Dengan adanya kandang rusa, universitas yang memiliki delapan fakultas ini juga memiliki misi menyebarkan informasi pendidikan. Pimpinan Unila berharap banyak pelajar yang menyambangi kandang rusa. Dengan menyambangi kandang rusa mereka tak hanya berwisata, tapi juga mendapatkan informasi tetang akses mudah dan murah untuk mengenyam pendidikan berkualitas di Unila. Misalnya, Unila memiliki Program Mahasiswa Perluasan Akses Pendidikan (PMPAP). Program ini memungkinkan seorang mahasiswa berprestasi dari keluarga prasejahtera, menempuh pendidikan di Unila tanpa membayar SPP sepeser pun. Hal ini karena adanya subsidi silang di Unila. Kalau mereka tidak menyambangi Unila, para pelajar belum tentu mengetahui informasi ini.

Saya tersadar, rupanya keberadaan penangkaran rusa di Unila yang begitu sederhana memiliki imbas yang berbagai rupa. Bukan sekadar tempat wisata, tapi juga tempat berkarya. Bukan sekadar soal penelitian, tapi terkait pengabdian, pemeliharaan, dan kelestarian.[] Hisna Cahaya

 

 


Post date: 2013-02-14 14:38:45
Post date GMT: 2013-02-14 07:38:45
Post modified date: 2015-04-13 08:55:38
Post modified date GMT: 2015-04-13 01:55:38

Powered by [ Universal Post Manager ] plugin. MS Word saving format developed by gVectors Team www.gVectors.com