Balai Bahasa Lestarikan Budaya Nusantara

(Unila): Lembaga Balai Bahasa meriahkan Dies Natalis Universitas Lampung (Unila) ke-50 dengan cara unik melalui pagelaran kuda lumping di pelataran parkir unit kerja setempat, Selasa (22/9). Kegiatan dihadiri Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., beserta jajarannya, dan sejumlah tenaga pendidik kependidikan di kampus setempat.

Dalam sambutannya Rektor mengatakan, dirinya mengapresiasi inisiasi Balai Bahasa dalam upaya melestarikan budaya nusantara yang kali ini diimplementasikan melalui pertunjukan seni tari kuda lumping.

“Saya berterima kasih kepada Balai Bahasa yang telah menyelenggarakan acara ini. Selain memeriahkan Hari Ulang Tahun Unila, pertunjukan ini sekaligus mengangkat tari tradisional kuda lumping sebagai budaya nusantara karena jika bukan kita siapa lagi,” ujar Sugeng.

Kuda lumping yang disebut juga jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang dianyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda itu dihiasi rambut tiruan dari plastik atau sejenisnya yang digelung atau dikepang. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna.

Meskipun kuda lumping berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia, Suriname, Hongkong, Jepang, dan Amerika.

Tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kaveleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.[*]