Who's Online
Kami memiliki 7 Tamu online
|
Biologi FMIPA Universitas Lampung
|
Kodok Bermata Biru Ditemukan di Lampung |
|
|
|
|
Ditulis oleh bio admin
|
|
Kamis, 11 Maret 2010 14:07 |

Spesies katak yang belum pernah diketahui sebelumnya ditemukan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Sumatera. Spesies yang termasuk dalam genus Leptobrachium ini unik karena memiliki warna iris mata biru muda, baik di bagian atas maupun bawah.
Kodok jenis baru ini dijumpai oleh Adiinggar Ul-Hasanah dan Wempi Endarwin dari Tim Wildlife Conservation Society tahun 2004, tetapi saat itu masih diidentifikasi sampai tahap genus saja, dan belum diketahui jenisnya. Penelitian lebih lanjut dilakukan tahun 2008 oleh Amir Hamidy, staf Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Puslit Biologi, LIPI.
Amir yang saat itu mengambil studi master dengan topik taksonomi genus Leptobrachium memeriksa dan mengkaji spesimen kodok yang tersimpan di museum-museum di Malaysia, di Jepang, dan tentunya di Indonesia (MZB). "Saya mengukur dan membandingkan secara detail semua karakter morfologi satu demi satu dari semua spesimen tersebut, termasuk semua spesimen disimpan di MZB-LIPI," ujarnya.
"Salah satu spesimen yang saya periksa memiliki karakter yang unik dan berbeda dengan Leptobrachium lainnya dari Sumatera, yaitu tidak memiliki pola warna pada bagian atas tubuh dan sekitar posterior pahanya. Tentu saja warna mata dari spesimen tersebut belum diketahui karena warna mata akan luntur pada spesimen yang telah terawetkan," lanjutnya.
Amir baru melihat warna mata kodok itu setelah Adiinggar Ul-Hasanah menunjukkan foto hidup spesimen tersebut. Berdasarkan informasi itu, Amir mengadakan survei singkat di jalur Way Sepunti. "Di situ kami menjumpai dua ekor. Kemudian saya mengkaji kodok tersebut lebih jauh, termasuk mendeskripsikannya," ujar Amir dalam surat elektronik kepada Kompas.com.
Warna iris mata di genus Leptobrachium merupakan karakter penting untuk membedakan jenis. Setidaknya dua jenis baru yang ditemukan akhir-akhir ini (tahun 2004 dan 2006) dari Kamboja dan Laos juga berdasarkan perbedaan warna iris mata.
Menurut kajian taksonomi yang dilakukan, yakni dengan membandingkan kodok ini dengan jenis lain (dalam genus Leptobrachium) dari Thailand, Malaysia serta beberapa wilayah lain di Indonesia (Sumatera, Belitung, Kalimantan, dan Jawa), Amir meyakini kodok ini adalah jenis baru.
"Kodok ini jenis baru yang merupakan spesies dari kelompok kodok seresah yang termasuk dalam genus Leptobrachium. Untuk nama spesies, saya beri nama waysepuntiense, jadi nama lengkapnya Leptobrachium waysepuntiense," kata Amir. Nama spesies ini mengacu pada nama sungai kecil di dekat lokasi ditemukannya, yaitu Sungai Way Sepunti, Desa Kubu Perahu, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
sumber : kompas
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
|
INFO : Batas Waktu Pengesahan Dosen |
|
|
|
|
Ditulis oleh bio admin
|
|
Jumat, 19 Februari 2010 08:28 |
|
Menindaklanjuti hasil rapat pimpinan (Rapim) pada Rabu (10/02). Lembaga Penelitian Universitas Lampung mengeluarkan surat pemberitahuan mengenai batas waktu pengesahan publikasi ilmiah bagi para dosen, dengan poin-poin sebagai berikut:
- Semua publikasi dosen, baik berupa jurnal, buku referensi, prosiding dan laporan harus didaftarkan ke Lembaga Penelitian (Lemlit) Universitas Lampung paling lambat 6 (enam) bulan setelah tanggal publikasi.
- Hasil publikasi yang didaftarkan melebihi ketentuan tersebut tidak dapat diakui sebagai kredit untuk kenaikan pangkat.
- Bagi dosen yang memiliki publikasi baik berupa jurnal, buku referensi atau prosiding yang dipublikasikan sebelum 1 September 2009, pengesahan oleh Lembaga Penelitian masih dapat dilakukan sampai dengan tanggal 10 Maret 2010.
Selanjutnya dimohon kepada para ketua Jurusan/Program studi agar dapat menyampaikan informasi ini kepada seluruh dosen di Jurusan/Program Studi yang bersangkutan. Silahkan bagi yang ingin men-download dokumen pemberitahuan disini .
|
|
Ditulis oleh bio admin
|
|
Selasa, 16 Februari 2010 12:16 |
|
Dalam Bahasa Inggris, padanan kata pencincinan burung adalah Bird banding atau Bird ringing, bergantung kepada negaranya. Menurut Life (1980), kegiatan pencincinan sebenarnya telah dimulai sejak abad pertengahan, ketika peternak burung alap-alap memulai melakukan penandaan terhadap burung peliharaannya agar kalau hilang dan ditemukan oleh orang lain, burung tersebut bisa dikembalikan lagi.
Penandaan burung secara moderen pertama kali dilakukan oleh Johan Leonhard Frisch dari Berlin. Pada tahun 1740, dia mengikatkan tali penanda berwarna merah pada tungkai walet sebelum migrasi musim gugurnya. Di Amerika, salah seorang pengamat burung yang pertama kali melakukan penandaan burung adalah John James Audubon, yang mengikatkan benang perak pada burung amatannya. Saat ini kegiatan pencincinan telah dilakukan oleh banyak pengamat burung di seluruh dunia.
Meskipun demikian, mengingat tingkat kesulitan serta kehati-hatian yang dituntut dalam kegiatan pencincinan, tidak semua orang bisa begitu saja melakukan kegiatan pencincinan. Mereka haruslah mendapatkan pelatihan yang cukup dan memperoleh ijin untuk menincin.
Global Healt Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP) akan mengadakan pelatihan bird banding ti Stasiun Penelitian Way Canguk Tmana Nasional Bukit Barisan Selatan, dalam kegitan tersebut peserta akan diajarkan cara-cara melakukan penandaan burung hingga mengidentifikasi dan mengenali burung yang telah diberi tanda. Pelatihan akan dilaksanakan selama satu minggu mulai tanggal 1 – 7 Maret 2010.
Pada kegiatan ini, WCS memberikan kesempatan kepada 2 orang mahasiswa/i jurusan Biologi FMIPA Unila untuk mengikuti kegiatan tersebut tanpa di pungut biaya. Bagi mahasiswa yang berminat dapat segera menghubungi Klub Ekologi FMIPA Unila atau sdr. Jani Master hingga tanggal 22 Februari 2009.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Ditulis oleh bio admin
|
|
Selasa, 09 Februari 2010 03:03 |
|
Diberitahukan kepada seluruh dosen di jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung, dimohon untuk tidak merubah jadwal perkuliahan semester genap T.A. 2009/2010 tanpa konfirmasi Jurusan terlebih dahulu.
Demikian, demi terciptanya ketertiban perkuliahan, Terimakasih atas kerjasamanya.
Bandar Lampung, 8 Februari 2010
Ketua Jurusan Biologi FMIPA Unila
Jadwal Kuliah dapat di download di sini |
|
Ditulis oleh Janter
|
|
Jumat, 05 Februari 2010 00:24 |
|
The fellowships are intended to place young researchers with Dr Tigga Kingston’s research project at Krau Wildlife Reserve, Malaysia to provide intensive training in ecological bat research techniques. The fellowships are modeled on the many workshops and training programs of the Malaysian Bat Conservation Research Unit, which has trained over 100 people (> 10 workshops), and are intended to equip fellows with the capacity to implement the SEABCRU research priorities. The preliminary fellowship program includes: * Practical training: o Field techniques for bat capture: harp traps, ground mist nets, canopy mist nets, netting over rivers. o Bat identification and handling. o Acoustic techniques for the survey of bats. o Radio-tracking of bats to identify roosts and to establish foraging areas. * Lecture series: o Bat Diversity and Indentification o Bat Ecology (I) – Foraging Ecology, Roosting Ecology & Mating Systems o Bat Ecology (II) – Ecomorphology – echolocation and wing morphology o Bat Research In South East Asia o Bat Conservation o Data Collection & Analysis o Publishing & Grant Writing * Outreach Activities: o The Children’s Workshop (covering materials for 7-10 year olds) o Environmental Education Activities for Older Children o Role Play o Project Activities for Volunteer Groups The fellowships are for four weeks, so that fellows not only cover the above activities but participate fully in the long-term research program of the MBCRU (which fits within SEABCRU Research Priority Area 5 (long-term monitoring of forest-dependent species), gain sufficient confidence to implement effective surveys/research in their own countries and to publish their findings. The dates for the 2010 team are May 1st-29th 2010 Eligibility Fellows should be students or young researchers from South East Asian countries (Brunei, Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philippines, Singapore, Thailand, East Timor, Vietnam). Priority will be given to applicants with some prior bat experience and who can clearly indicate how their participation will further bat research or conservation in their home country. Deadline for 2010: 22nd February 2010. Fellowship Follow-up The success of the fellowship program will be monitored by: * Requiring all fellows to submit a report of their experiences upon return to their host country. * Requiring a follow-up report six months later detailing how the fellows have since used their experience. * A mentoring program linking individual fellows to senior researchers from other countries. Complete the Application Form Here and submit to Tigga Kingston or for full details, please visit the SEABCRU website here http://www.seabcru.org/?q=node/21 |
|
LAST_UPDATED2 |
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 Berikutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 1 dari 5 |
|