Unila Komit Bantu Mahasiswa Prasejahtera Lewat PMPAP

(Unila): Rektor Universitas Lampung Prof. Hasriadi Mat Akin menegaskan komitmennya dalam membantu mahasiswa prasejahtera yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, khususnya di Universitas Lampung.

Beberapa jalur yang dibuka yakni melalui Penerimaan Mahasiswa Perluasan Akses Pendidikan (PMPAP), bidik misi, pembebasan biaya bagi mahasiswa hafidz quran, hingga penerapan uang kuliah tunggal (UKT) nol rupiah bagi mahasiswa tidak mampu yang diterima melalui jalur SBMPTN dan SNMPTN.

Seperti tahun ini saja, Universitas Lampung menerima 208 mahasiswa dari jalur PMPAP tahun akademik 2016/2017. Pengambilan sumpah sendiri dilakukan di Gedung Serbaguna Unila, Rabu (17/8) lalu. Jumlah tersebut dialokasikan dari persentase kuota total Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Unila tahun 2016 yakni sebanyak 6.837 orang.

“Keberpihakan Unila terhadap mahasiswa kurang mampu agar dapat kuliah itu sangat besar sekali. Misalnya melalui PMPAP ini kita (Unila, red) berani menggelontorkan sejumlah kuota PMB minimal 5 persen, itu khusus untuk calon mahasiswa yang betul-betul tidak mampu secara ekonomi. Syaratnya sangat mudah, asal dia benar-benar  miskin, punya modal secara akademis dan motivasi tinggi untuk melanjutkan pendidikan tinggi ” ujar Rektor saat memberi sambutan.

Program PMPAP sendiri sudah dimulai Unila sejak tahun 2011 lalu. Program diperuntukkan bagi para siswa SMA/SMK/MA dari kabupaten/kota se-Lampung yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana dan berasal dari keluarga prasejahtera.

Mekanisme program yakni Unila membebaskan biaya kuliah full selama delapan semester. “Mereka (calon mahasiswa PMPAP, red) akan dibebaskan dari biaya perkuliahan, namun bukan biaya hidup, jadi agar dipahami betul,” katanya.

Program PMPAP yang diinisiasi Kampus Hijau ini diharapkan mampu menjawab persoalan pendidikan, terutama bagi siswa yang berasal dari keluarga prasejahtera. Mengingat fenomena yang muncul di berbagai pelosok daerah terpencil rata-rata mereka yang kurang mampu cenderung memiliki banyak anak dan menikah dengan mereka yang juga berasal dari kalangan prasejahtera.

Dengan fenomena tersebut maka kemiskinan akan terus menjadi persoalan dan mata rantainya sulit untuk diputus. Oleh karena itu Unila membuka PMPAP yang mana program ini disediakan agar dapat membantu memberikan akses bagi semua lapisan masyarakat dan tepat sasaran.[inay/humas]