Pentas Teater Tari “Waiting For Warih” UKMBS 2017

 

UNIT Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung mempersembahkan Teater-Tari “Waiting for Warih” yang dikonsep dan disutradarai Ari Pahala Hutabarat. Pementasan diselenggarakan di Gedung Teater Tertutup (GTT) Taman Budaya Provinsi Lampung, 15-16 Mei 2017.

Di bawah bimbingan seniman-seniman yang tergabung dalam Komunitas Berkat Yakin (KOBER), proses persiapan “Waiting for Warih” yang dilakukan sejak Desember 2016 ini melibatkan 23 orang penampil dari divisi-divisi yang terdapat di UKMBS Unila yaitu divisi Musik, Tari, Rupa, dan Teater dan Sastra.

Mengusung kisah tentang romansa sepasang manusia yang telah merajut kasih sejak lama namun kemudian kilasan masa lalu yang muncul menjelang akhir hayatnya menimbulkan kesadaran bahwa selama ini mereka telah terjebak dalam kesalahpahaman makna cinta yang sesungguhnya.

Sebuah pertunjukan kontemporer yang menyampaikan satu kisah melalui dialog-dialog puitik dengan pemaknaan tentang kehidupan secara lebih mendalam dan tari-tari tradisional yang mengutamakan kedalaman makna dalam gerak-gerak tari yang sederhana.

Pementasan ini mengangkat aspek-aspek kearifan lokal, dalam hal ini kebudayaan Lampung, seperti tari Sigegh Pengutten, Bedana, Muayak, dan musik tradisional Lampung, serta menghadirkan pencak silat sebagai seni bela diri Indonesia.

Adapun unsur modern yang dihadirkan adalah bentuk penyajiannya yang dibagi dalam beberapa fragmen.
Proses menuju kesadaran itu disampaikan melalui dialog-dialog puitik yang akan menggugah hati manusia untuk kembali bertanya mengenai makna kehidupan dan cinta serta sesuatu yang disebut takdir. Gerak-gerak tari sederhana ditampilkan penuh makna sehingga menggambarkan gejolak emosi yang pasti pernah dialami setiap manusia.

Dalam pesan yang terdapat di dalamnya, manusia sering bertanya-tanya pada diri sendiri apakah kita adalah majikan sang waktu, atau kita hanya budak sang waktu. Lalu apakah sesuatu yang kita duga sebagai cinta itu benar-benar cinta, atau sebatas hasrat seksual, emosi, atau sekadar prasangka-prasangka.

Melalui pementasan ini diharapkan dapat menarik kawula muda untuk lebih mencintai dan melestarikan kebudayaan lokal serta menjadi pelecut bagi mahasiswa penggiat seni di Lampung untuk turut aktif menciptakan karya seni yang berkualitas.[rilisUKMBS/gigih_humas]