|
Unila Cari Bibit Unggul Potensial Melalui PBUD |
 (Unila): Lampung memiliki banyak aset-aset berharga yang sangat potensial untuk berkembang lebih maju. Salah satu aset potensial tersebut adalah para pelajar. Banyak putra-putri pelajar di daerah yang kemampuan akademiknya tidak tereksplorasi karena akses pendidikan yang sangat sulit. Banyak anak-anak cerdas di daerah-daerah pelosok yang akhirnya tidak bisa meneruskan pendidikan karena keterbatasan dana dan fasilitas pendidikan. Hal tersebut lah yang membuat Universitas Lampung (Unila) kembali membuka program penerimaan mahasiswa dari daerah melalui jalur Penjaringan Bibit Unggul Daerah (BPUD). “Program ini sempat terhenti satu tahun. Namun tahun ini Unila kembali membuka kerjasama dengan pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten/Kota se-Lampung,” ujar Rektor Universitas Lampung, Prof. Dr. Sugeng P Harianto, M.S, saat membuka acara sosialisasi PBUD di Aula Wisma Unila, Kamis (04/01).
Sugeng mengharapkan mahasiswa berprestasi yang terpilih dari penjaringan di masing-masing Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung benar-benar anak yang tidak mampu secara finansial dan berprestasi di sekolahnya masing-masing. “Mahasiswa hasil dari penjaringan PBUD ini juga nantinya diharapkan akan kembali dan membangun daerahnya masing-masing,” harap Sugeng. PBUD merupakan salah satu jalur masuk Unila selain Penelusuran Kemampuan Akademik dan Bakat (PKAB), Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), dan jalur Ujian Masuk (UM). Persentase penerimaan PBUD sebanyak 5 (lima) persen. Paling sedikit dibanding ketiga jalur lain, yakni: PKAB (20 persen), SNMPTN (45 persen), dan UM (30 persen). Mahasiswa dari jalur ini nantinya akan dibiayai oleh Pemda setempat, Badan Usaha Milik Negara (BUMN)/Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta perusahaan swasta yang melakukan seleksi terhadap calon mahasiswa dari Sekolah Menangah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Masing-masing kabupaten kota yang ada di Provinsi Lampung diberi kuota rata-rata enam belas mahasiswa untuk dibiayai. “Kuota ini juga bersifat fleksibel. Jika ada kuota kabupaten kota yang tidak terpenuhi maka akan diberikan kepada daerah lain yang kuotanya kurang,” ujar Pembantu Rektor I Unila, Hasriadi Mat Akin, saat sesi diskusi dan tanya jawab dengan para perwakilan masing-masing daerah. [andry/rihana/redha] Views: 261
Powered by BBS Unilanet v.1.4.6 © Copyright 2007 - www.unila.ac.id All right reserved
|